Ulos dalam Kehidupan Adat Batak

Sesuai janji saya, kali ini saya mengulas sekelebat mengenai kain tradisional suku Batak yang disebut ulos. Kain ini dibuat dengan menggunakan teknik tenun ikat lungsi. Prinsip pembuatannya adalah dengan mengikat  benang lungsi (benang vertikal), lalu dicelup ke dalam bahan pewarna. Setelah itu, barulah kain ditenun. Teknik inilah  yang kemudian menghasilkan corak-corak yang khas pada kain ulos.

Teknik tenun ikat lungsi ini tentu saja bukan monopoli masyarakat Batak. Konon, teknik ini telah berkembang dari zaman perunggu, sekitar abad ke-8 sampai abad ke-2 sebelum Masehi di pedalaman Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara Timur.

Di Sumatera, selain di daerah Tapanuli, teknik tenun ikat lungsi juga ditemukan di daerah Aceh. Keunikan di Aceh, teknik tenun ikat lungsi dikombinasikan dengan ragam hias songket benang perak. Di Kalimantan, tenun ikat lungsi dibuat oleh suku-suku Dayak Ot Danum, Bahau, Apo, Bayan, dan suku Dayak Iban.  Tenun ikat lungsi yang terkenal di Sulawesi diproduksi daerah pedalaman di Tana Toraja. Di wilayah Nusa Tenggara Timur, pembuat kain tenun ikat lungsi yang terkenal ada di Sumba, Timor, Flores, Sawu, dan Rote.

Balik ke ulos, kain ini memegang peranan penting sebagai alat dan objek upacara adat maupun sebagai perlengkapan busana. Ulos sebagai alat dan objek adat diberikan oleh satu pihak kepada pihak lain.  Dalam hierarki adat, pemberi ulos harus lebih tinggi kedudukannya ketimbang pihak yang diberi.

Prinsipnya memang, ulos adalah barang pemberian dari satu pihak kepada pihak lain untuk berbagai tujuan.  Dalam upacara perkawinan, misalnya, pihak keluarga perempuan memberikan sehelai ulos kepada menantu laki-laki yang bernama ulos ragi pako.   Ulos ini berbentuk kain lebar yang dapat menyelimuti kedua mempelai.  Ulos juga diberikan oleh  orang tua kepada anak atau kakek-nenek kepada cucunya. Ulos bisa pula diberikan oleh  kakak atau abang kepada adik laki-laki atau adik perempuan.  Begitu pula ada ulos yang diberikan raja kepada bawahan atau rakyatnya.

Sedangkan berdasarkan jenisnya, ulos dapat dibagi menjadi berbagai jenis. Ada banyak variasi dan sebutannya, tapi  di antara sekian banyak itu ada empat jenis utama yang bertahan sampai sekarang.

A.Ulos Ragidup/Ragi Idup
Ragi artinya corak. Idup artinya kehidupan.  Karenanya, ulos ini sering diartikan sebagai ulos yang melambangkan kehidupan dan doa restu untuk kebahagian dalam  hidup.  Ulos Ragidup merupakan ulos yang bernilai paling tinggi dalam upacara adat Batak.  Cara pembuatan ulos ini juga paling rumit dibanding ulos-ulos jenis lain. Ulos ini terdiri dari lima bidang yang saling berhubungan, yang dibuat dengan cara ditenun dan dikombinasikan dengan teknik jahit tangan.

Dalam proses penenunannya, ada beberapa teknik yang diterapkan yaitu teknik ikat lungsi dan lungsi tambahan pada bagian-bagian tertentu kedua ujung ulos. Keunikan lain ulos ini ada pada bagian yang ditenun warna terang dan putih dengan ragam hias teknik pakan tambahan.

Panjang ulos ini mencapai hampir 2,5 meter dan lebarnya 1,5 meter. Bidang tengah ulos ini disebut badan yang diisi dengan jalur-jalur bercorak ikat lungsi. Di kedua ujung bagian tengah ulos dihiasi bidang putih yang dipadati dengan corak pakan tambahan garis-garis geometris yang halus dan padat. Sedangkan pada sisi kiri dan kanan ulos berupa sebuah jalur warna gelap polos yang dijahitkan pada bidang-bidang tadi.  Ulos ragidup hanya dipakai oleh laki-laki yang sudah mempunyai cucu atau jandanya.

b.Ulos Mangiring
Ulos ini dibuat untuk mengungkapkan rasa syukur atas lahirnya anggota keluarga dalam upacara memberikan ulos atau mangulosi bayi yang baru dilahirkan. Lebarnya sekitar 70 sentimeter dan panjang 165 sentimeter. Ulos Mangiring berupa selembar kain yang dihias jalur-jalur tipis berisikan corak ikat lungsi berbentuk anak panah atau mata panah, berlatar tenunan warna gelap cokelat atau merah marun. Pada masa kini,  Ulos Mangiring sudah dikembangkan dengan warna-warna yang sesuai dengan selera pemesan dan dipakai juga sebagai selendang atau penghias pinggang pada busana modern.

c.Ulos Sibolang
Ulos Sibolang mempunyai ciri berlatar warna biru tua dengan corak ikat lungsi biru muda. Ulos ini dipakai dalam upacara kematian. Di dalam upacara berkabung, seorang istri yang ditinggal suaminya diberikan ulos jenis ini sebagai tanda ia sudah menjadi janda.

Dalam adat masyarakat Batak yang menurut garis keturunan patrilineal, terdapat adat perkawinan levirat. Dalam adat ini bila suami meninggal maka jandanya diperkenakan menikah dengan saudara laki-laki suaminya agar garis keturunan keluarga mereka tidak terputus.

Pemberian ulos kepada janda tersebut menandakan harapan agar ia mau mengawini saudara laki-laki almarhum suaminya. Ulos pemberian ini disebut ulos pandasdas. Cara memakai ulos ini adalah dengan menjadikannya selendang, penutup kepala, atau penutup badan. Pada masa sekarang,  pemakaian Ulos Sibolang diperluas, sehingga dapat dipakai dalam acara-acara gembira.

d.Ulos Ragihotang
Ragihotang bersumber dari kata hotang atau rotan. Secara adat, ulos ini dipakai oleh mereka yang sudah menikah. Kaum laki-laki memakainya sebagai selendang bahu, sedangkan kaum wanita mengenakannya sebagai kain penutup dada atau  rok. Ulos ragihotang  berlatar belakang warna cokelat tua dengan dihias garis-garis halur putih dan diisi hiasan garis-garis terputus yang dibuat dengan teknik ikat lungsi.

Dalam pesta pernikahan,  ulos ini diberikan kepada kedua mempelai dengan maksud agar  ikatan batin pasangan baru itu kuat seperti rotan.  Rupanya, pada zaman dahulu, rotan adalah tali pengikat yang banyak dipakai masyarakat karena paling kuat.  Cara pemberian ulos ini kepada pengantin ialah dengan disampirkan dari sebelah kanan, lalu ujung kanan dipegang dengan tangan kanan Iaki-laki, dan ujung sebelah kiri oleh perempuan, dan  disatukan di tengah dada seperti terikat.

Bukan hanya upacara pernikahan, Ulos Ragihotang  pun sering dipakai dalam upacara adat kematian sebagai pembungkus atau penutup jenazah yang akan dikebumikan. Pemberian Ulos Ragihotang kepada jenazah ini  mengartikan bahwa pekerjaan seseorang di dunia ini telah selesai.

Adapun cara  pengenaan ulos pada pesta atau upacara adat bermacam-macam. Ulos bisa dikenakan di bahu atau leher untuk penghormatan. Ulos bisa diletakkan di bahu (dihadang atau disampe-sampe),  dipakai menjadi sarung  (diabithon), dililitkan di kepala (dililithon),  atau  dipakai sebagai penggendong  beban (disabukkon).

SUMBER: Buku Tenun Ikat (Suwati Kartiwa), dan sumber-sumber lain

Tradisi Puasa dan Lebaran: Gaya Dusun Aeksah

Jika ditanya, kenangan apa yang paling membekas saat melaksanakan ibadah puasa dan Lebaran? Saya yakin, sebagian besar kita akan terbawa pada memori masa kecil. Alasannya banyak. Bisa karena masa-masa itu semuanya serba indah dan mudah, atau  karena banyak orang-orang yang dulu berpuasa bersama kita, kini sudah tidak ada lagi.

Saya sendiri paling senang kembali ke masa-masa akhir 1970-an sampai  1990-an.  Ketika itu, saya masih tinggal di Medan dan kerap menghabiskan hari-hari terakhir berpuasa dan Lebaran  di kampung bersama keluarga besar.   Biasanya, dua  hari menjelang Lebaran kami sudah tiba di kampung.

Kampung kami yang benar-benar kampung itu, terletak di sebuah dusun bernama  Aeksah, Kecamatan Pahae Jae, Tapanuli Utara, Sumatera Utara.  Jaraknya dari Medan sekitar 325 kilometer atau  8 jam perjalanan darat. Rutenya melewati Perbaungan, Sei Rampah, Tebing Tinggi, Pematang Siantar, Parapat, Balige, Siborong-borong, dan Tarutung.

Tadinya, kedua ompung kami tinggal di Banjar Tikus, Kota Sipirok, yang sekarang jadi Ibu Kota Kabupaten Tapanuli Selatan. Kota kecil itu berjarak sekitar 22 kilometer dari Aeksah. Setelah pensiun sebagai pegawai sebuah sekolah di sana,  ompung pindah ke Aeksah. Saya sempat juga mencicipi puasa dan Lebaran di rumah Sipirok.

Rumah kami di Sipirok berlantai dua dan sebagian berbahan kayu. Dindingnya berdempetan dengan  rumah tetangga di kiri dan kanan.  Berhubung waktu itu masih terlalu kecil, tidak banyak yang saya ingat. Cuma, satu kebiasaan  yang paling membekas adalah saya biasanya tidur di lantai dua, sedangkan kamar mandi ada di lantai satu.  Sering di malam hari, kalau kebelet  pipis dan malas ke bawah, saya cukup  membuka jendela di kamar lantai dua, dan….

Khawatir ada yang melihat? Ya, tidak. Karena pada masa itu penerangan masih seadanya–saya tidak ingat apakah listrik sudah ada atau belum. Yang jelas, untuk menyalakan televisi tabung hitam-putih harus menggunakan catu daya dari aki mobil, yang tiap tiga hari harus dibawa ke pasar untuk dicas.

Begitulah, sekitar saya SD, ompung pindah ke Aeksah, persis di tepi Jalan Raya  Lintas Sumatera yang menyambungkan Aceh sampai ke Lampung. Bicara soal listrik, beberapa tahun lamanya kami sempat merasakan kondisi tanpa listrik di Aeksah.  Andalan satu-satunya, ya, aki mobil untuk menyalakan radio. Untuk penerangan kami  mengandalkan lampu petromaks.

Televisi? Tidak ada satupun gelombang stasiun televisi yang sudi mampir ke Aeksah pada waktu itu. Radio pun biasanya radio luar negeri yang memancar lewat gelombang SW.  Sekarang? Jangan ditanya. Semua operator seluler sudah ada memamerkan sinyalnya di sana.

Menjelang berbuka, hari mulai gelap, berjejerlah kami para cucunya yang datang  dari Medan, Dumai, dan Sibolga di teras rumah, di hadapan lampu-lampu petromaks yang siap dipompa. Minyak tanah sudah diisi, spiritus sudah dituang, kaos lampu masih oke, siap…mulailah tangan-tangan mungil memompa petromaks sampai suaranya menderu-deru. Kaos lampu berubah menjadi putih terang, pertanda hembusan minyak sudah maksimal.

Beberapa dari lampu-lampu itu kemudian digantungkan di rumah, dua lagi dibawa ke masjid yang berjarak sekitar 400 meter dari rumah. Kecuali khutbahnya yang memakai bahasa Batak yang tak saya pahami, salat tarawih di sana normal. Jumlahnya 11 rakaat.  Cuma, karena jaraknya yang cukup jauh dan jalanan gelap,  biasanya kami melewatkan tarawih di masjid.

Sayangnya, entah karena apa, saya juga malas mencari tahu, belasan tahun lalu, pengurus masjid pecah kongsi. Terbelah. Dusun yang penduduknya cuma beberapa ratus orang itu pun terpaksa memiliki dua masjid. Pengurus lainnya mendirikan masjid baru di dekat rumah kami.

Enaknya puasa di kampung adalah udaranya yang dingin membuat puasa jadi tidak terasa. Sambil menunggu berbuka kami bermain di kebun dan sawah.  Dusun Aeksah dibangun di lereng bukit, termasuk rumah kami. Di depan rumah, dipisahkan oleh jalan, terdapat bukit yang ditumbuhi pohon karet, durian, dan kopi. Sedangkan di lembah di belakang rumah ditumbuhi pohon durian dan kopi.

Permainan yang paling menyenangkan adalah berburu binatang di kebun dan sawah di belakang rumah. Berbekal senapan angin yang disiapkan untuk memburu tupai perusak tanaman, kami serasa jadi pemburu profesional. Mencoba menembak burung, tupai, atau burung ayam-ayam yang sering hinggap di tali air sawah.  Untunglah, ketika itu tidak ada satu pun hewan yang berhasil ditembak jatuh oleh para pemburu amatir ini.

ARSIK
Di sebelah sawah di belakang rumah, terdapat kolam ikan mas. Ukurannya kira-kira 10×15 meter. Beberapa bulan menjelang Lebaran ompung selalu menebar bibit ikan mas di sana. Jadi, tiba waktunya Lebaran, ikan-ikan  sudah besar dan siap disantap. Nah, salah satu kegiatan yang paling ditunggu-tunggu  adalah menangkap ikan mas di kolam.

Menangkap ikan mas di kolam gampang-gampang susah.  Pertama, tambak harus dikeringkan dulu. Airnya dibuang lewat saluran pembuangan ke tali air.  Setelah surut menjadi kira-kira setinggi 30 sentimeter, barulah kami masuk ke dalam kolam yang penuh lumpur itu.

Lantaran tangguk cuma ada dua, sebagian besar kami memilih menangkap ikan memakai tangan kosong. Lebih merepotkan karena ikannya licin dan sudah besar-besar. Meski begitu, dengan tangan kosong  acara menangkap ikan menjadi lebih menyenangkan.

Bayangkan susahnya menangkap ikan di atas lumpur. Jalan saja setengah mati, apalagi harus mengejar si ikan yang lari ke sana-ke mari. Setelah satu jam, barulah semua ikan bisa ditangkap. Jumlahnya mencapai puluhan ekor.  Selanjutnya, ikan yang telah dicuci di sungai dibawa ke rumah untuk diolah menjadi arsik.

Arsik  ini adalah salah satu hidangan khas Tapanuli yang sangat populer.  Cara membuatnya,  ikan mas yang sudah disiangi, ditiris, dicuci bersih, dan dibiarkan utuh. Kemudian, badan bagian luar ikan  dilumuri dengan bumbu yang sudah disiapkan.

Bumbu-bumbu itu adalah cabai merah,  bawang merah, bawang putih, jahe, kemiri, andaliman (merica Batak), kunyit, dan garam.  Setelah itu, masukkan  kacang panjang dan 3-5 batang serai ke dalam perut ikan. Alas  dasar wajan dengan sisa serai sampai tertutup rapat. Letakkan ikan di atas serai, lalu tuangkan air. Tutup wajan dan masak di atas api kecil sampai kering. Dan, voila…this is it, sajian ikan mas dengan topping berwarna kuning meriah yang menggugah selera.

MANGALOMANG
Bersamaan dengan mengolah arsik,  sehari menjelang Lebaran ompung dan geng inang boru juga mulai  mangalomang atau memasak lemang. Bahan-bahan lemang sederhana, yaitu campuran antara beras ketan, santan, dan garam.  Bahan-bahan yang sudah disiapkan  dituang ke dalam satu ruas  bambu. Di dalam bambu  dilapisi terlebih dulu dengan daun pisang supaya lemang tidak lengket.

Bambu kemudian ditegakkan berjejer di atas kayu dan dibakar pakai arang atau kayu bakar.  Membakar lemang ini cukup lama waktunya. Bisa setengah harian. Lemang juga harus dibolak-balik supaya matangnya merata. Setelah  matang, batang bambu dibelah dan dikeluarkan lemangnya.

Lemang biasanya digunakan sebagai sajian untuk hidangan makan pagi sebelum salat Ied. Lemang paling mantap disajikan bersama durian. Pas, karena lemang bisa menetralisasi rasa manis durian. Kelebihan lainnya, dengan memakan lemang bersama durian, jumlah durian yang kita santap menjadi lebih sedikit.

MADABU TARUTUNG
Durian di kampung tidak perlu beli. Tinggal menunggu ‘durian runtuh’ dalam arti sebenarnya. Sudah saya ceritakan tadi, belasan pohon durian tinggi besar  tersedia di kebun di depan rumah dan di lembah di belakang rumah. Menunggu durian runtuh ini juga kegiatan wajib menunggu berbuka.

Apalagi di era kegelapan ketika PLN belum melirik Aeksah, menunggu durian jatuh  adalah kegiatan mengasyikkan. Tak peduli siang atau tengah malam, jika terdengar suara gedebuk–pertanda ada buah durian yang mendarat di tanah, orang yang pertama mendengarnya harus meneriakkan, “Madabu tarutung, madabu tarutung,” (jatuh durian, jatuh durian). Secepat Ben Johnson (sprinter zaman dulu) kami pun berlarian ke arah suara itu. Berbekal senter seadanya, pencarian terkadang butuh waktu lama. Tapi begitu  ketemu, rasanya senang luar biasa.

Saat musim durian, kadang jumlah durian yang terkumpul melebihi kemampuan makan belasan anak-cucu yang hadir. Dari pada busuk, durian itu  kami jajakan di tepi jalan. Tempatnya seadanya. Papan-papan kayu dipaku menjadi meja  darurat. Durian diletakkan saja  di pinggir tepi jalan. Tidak berapa lama pasti ada saja pemudik yang mampir. Kalau tidak salah ingat harganya ketika itu Rp 5 ribu-Rp 10 ribu per buah. Lumayan, kalau bisa terjual 10 buah, berarti Rp 100 ribu di tangan.

MAKKOBAR
Hari terakhir berpuasa pun tiba. Malam harinya, seperti biasa, warga kampung ikut  meramaikan malam dengan takbiran. Tidak hanya dari Aeksah, takbiran dimeriahkan  pula oleh warga-warga dari kampung lain di Pahae. Jangan dibayangkan jarak antar kampung menempel rapat seperti di kota besar. Jarak antar kampung di Pahae paling sedikit 3 kilometer.

Selepas berbuka, mulailah muncul keramaian. Warga kampung menyewa beberapa truk  yang penuh diisi  anak-anak kecil. Di atas kap truk diletakkan speaker besar yang dicomot dari masjid. Sambil berkeliling, gema takbir berkumandang dari atas truk. Kami pun tak mau ketinggalan. Ikut mengiringi dengan mobil dari belakang.

Besoknya, sesuai tradisi masyarakat Batak, sebelum menuju ke lapangan untuk salat Ied, kami sekeluarga berkumpul di ruang tengah rumah. Kursi-kursi digeser, tikar dan karpet dibentangkan. Sebelum menyantap hidangan, ada acara wajib yang dinamakan makkobar.

Dalam sesi ini, seluruh anggota keluarga harus menyampaikan sepatah-dua patah kata yang intinya ucapan mohon maaf lahir dan batin kepada seluruh keluarga. Makkobar selalu dimulai dari cucu yang paling bontot, kemudian ke anak yang paling bontot, terus bergiliran sampai akhirnya sampai ke ompung godang (kakek laki-laki).

Teorinya hanya sepatah-dua patah kata, tapi prakteknya, makin tua umur pembicara, makin panjang pula petuah yang disampaikan. Banyak orang yang bilang, tradisi  makkobar ini yang membuat orang Batak jago berbicara di depan umum dan adu argumentasi. Terbukti, jagad hukum sekarang dikuasai orang Batak.

Tapi, terus terang, makkobar ini yang selalu bikin saya senewen tiap tahun. Gimana gak, malamnya harus membuat konsep apa yang mesti disampaikan besok. Harus ada kalimat yang baru, dong. Doanya juga mesti tambah variatif, masa’ sama dengan tahun lalu. Ya, begitulah saban tahun.

Habis makkobar dan sarapan, sekitar pukul 7.00 kami pun beramai-ramai berangkat ke tanah lapang yang berjarak 500 meter dari rumah. Tanah lapang itu sebenarnya halaman rumah warga yang sangat luas, jadi bisa dipakai untuk salat seisi kampung.

Salat di Tapanuli Utara sama dengan salat umat Islam di seluruh dunia. Dimulai dengan takbir, kemudian khutbah Ied, dan ditutup dengan salat dua rakaat. Yang membedakan paling khutbahnya yang menggunakan bahasa Batak yang hanya 10 persen yang bisa saya cerna.

Selesai salat, kami kembali ke rumah. Sampai tengah hari biasanya, kami tidak bisa kemana-mana. Sebagai orang yang cukup dituakan di kampung itu, ompung ramai menerima tamu. Anak-anaknya pun harus siaga di rumah. Selain untuk bersilaturahim, tugas paling penting menyiapkan amplop untuk dibagikan kepada anak-anak kecil yang datang.

ABIT
Begitu tamu  mulai berkurang–sebenarnya tidak pernah sepi sampai malam, anak dan cucu biasanya pergi ke Sipirok untuk jalan-jalan. Sepanjang perjalanan 20 kilometer lebih menuju Sipirok yang masuk ke Kabupaten Tapanuli Selatan itu, akan terlihat parade baju baru anak-anak maupun orang tuanya. Biasanya warna-warna yang dipilih adalah cerah yang ngejreng.

Uniknya di sana, meski sudah memakai baju baru, tetap saja sehelai sarung atau abit terlempang di pundak atau di pinggang mereka. Jadinya kontras dengan baju serba baru dari kepala ke kaki yang mereka kenakan. Lah, keren-keren kok pakai sarung. Namun, itulah tradisi masyarakat Tapanuli. Mungkin karena sehari-hari terbiasa mengenakan sarung untuk menghalau dingin, saat Lebaran pun sarung harus ikut.

Masyarakat Batak, sebagaimana banyak suku lain di Nusantara, memang sangat lekat dengan kain-kain yang dibuat dengan teknik menenun (proses membuat kain dengan cara menyilangkan dua set benang secara vertikal-horisontal). Kain tradisional masyarakat Batak dikenal dengan nama ulos.

Ulos dibuat bukan dengan teknik tenun biasa, melainkan dengan teknik tenun ikat. Disebut tenun ikat karena pada saat benang hendak diwarnai, benang dikumpulkan, diikat satu per satu, baru dicelupkan ke cairan pewarna. Metode ini yang menghasilkan corak-corak tertentu dari kain.

Ulos banyak jenisnya, tergantung tujuan penggunaannya. Misalkan, ulos untuk dipakai sehari-hari (ulos Sirampat) berbeda ulos dengan ulos untuk upacara adat (ulos Ragidup atau ulos Ragihotang) , beda pula dengan ulos  untuk berkabung (ulos Sibolang). Ah, soal ulos dibahas nanti ya, sekarang perjalanan kita lanjutkan ke Sipirok dulu…

AEK LATONG
Jarak perjalanan ke Sipirok tidak terlalu jauh, hanya sekitar 20 kilometer. Lalu-lintas juga sepi dan lancar. Tapi, jangan dikira perjalanan bisa ditempuh dengan cepat. Salah satu hambatan ada di sebuah daerah yang bernama Aek Latong. Di sini ada jalan ‘maut’ sepanjang 3-4 kilometer yang dari tahun ke tahun selalu anjlok sedalam puluhan meter.

Sudah banyak korban jiwa yang menjadi tumbal di kawasan ini. Pilihan kecelakaan ada dua.  Pertama, mobil bisa terlempar ke jurang karena terlambat mengurangi kecepatan sewaktu memasuki jalan yang tiba-tiba menurun tajam. Kedua, mobil terseret ke bawah karena tidak kuat menaiki tanjakan curam.

Selain jebakan jalan turun, tantangan di jalan mendaki juga berat. Terutama di musim hujan.  Bus-bus besar dan sedang biasanya menurunkan semua penumpangnya sebelum mendaki di jalan ini. Beberapa bus yang nekad tak menurunkan penumpang atau mengurangi muatan harus menerima nasib melorot ke bawah atau terguling. Konon kabarnya, ada satu bus yang terguling dan masuk ke dalam rawa berair yang di sisi jalan. Semua penumpangnya tewas tenggelam.

Untungnya, saya dengar kabar,  jalur Aek Latong kini sudah digeser oleh Kementerian PU sekitar satu kilometer dari jalan aslinya. Jalan baru sepanjang 2,9 kilometer yang dibangun dengan biaya Rp 60 miliar sudah beroperasi tahun ini. PU  mengakui,  penanganan jalur Aek Latong sangat berat.

Pasalnya, kondisi alam Aek Latong  tepat berada pada patahan bumi Sesar Semangko, sehingga selalu terjadi  patahan yang sangat besar di badan jalan. Kondisi inilah yang menyebabkan rusaknya badan jalan. Masalah lainnya, jalur tersebut  berada pada daerah lereng  gunung yang curam. Ditambah curah hujan yang tinggi, lengkap sudah kerawanan di jalur Aek Latong.

Dari berbagai literatur diketahui bahwa sesar atau patahan Semangko adalah istilah yang merujuk pada bentukan geologi yang membentang di Pulau Sumatera dari utara ke selatan, dimulai dari Aceh hingga ke Teluk Semangka di Lampung.

Patahan inilah membentuk Bukit Barisan,  rangkaian dataran tinggi di sisi barat Sumatera. Patahan Semangko berusia relatif muda dan paling mudah terlihat di daerah Ngarai Sianok dan Lembah Anai di dekat Bukittinggi.

Sesar Semangko ini, kata pakar kegempaan Danny Hilman, sebenarnya masih bagian dari sesar Sumatera yang terjadi akibat tunjaman yang miring dari lempeng Indo-Australia terhadap Eurasia.

Danny membagi patahan Sumatera sepanjang 1.900 kilometer menjadi 19 segmen besar. Mulai dari segmen Sunda di ujung selatan, Semangko, Kumering, Manna, Ketaun, Dikit, Siulak, dan Suliti. Kemudian Sumani, Sianok, Sumpur, Barumun, Angkola, Toru, Renun, Tripa, Aceh, dan Seulimeum. Tiap segmen  panjangnya beragam, mulai dari 35 sampai 220 kilometer.

Gempa darat yang disebabkan patahan itu sangat dangkal, hanya pada kedalaman 10 kilometer, sehingga memicu efek getaran sangat besar dan dapat menggoncang lapisan bumi dengan kuat walaupun magnitude-nya kecil. Wilayah yang dilalui patahan Semangko ini sangat rentan terhadap longsor.

Tuh, beralasan kan, mengapa Aek Latong sulit sekali ditangani.


SIPIROK

Tiba di Sipirok banyak kegiatan yang bisa dilakukan. Pertama-tama, kita harus melewati hiruk-pikuk pasar yang ada di tengah kota.   Saya ingat, waktu kecil, ompung masih sering berdagang di pasar ini. Sebelum terbakar habis dan dibangun kembali menjadi lebih modern, dagang di pasar ini masih lesehan. Ompung menggelar tikar dan berdagang hasil bumi dari Aeksah.

Ada telur ayam, sayur-mayur dan buah-buahan. Kerja saya yang niatnya ingin membantu biasanya cuma ngerecokin atau mecahin telur. Satu lagi, bakat terpendam dari kecil sampai sekarang adalah nyasar. Beberapa kali saya nyasar di pasar yang cukup besar itu. Apalagi dulu kondisi belum serapih sekarang.

Tujuan utama di Sipirok ada dua yakni pemandian aek milas (air panas) Sosopan dan Tor Simago-mago (tor artinya gunung, mago artinya hilang). Aek milas sosopan terletak di pertengahan jalan menuju simago-mago. Dari Sipirok ke Sosopan jaraknya sekitar 5 kilometer. Ditambah sekitar 3 kilometer lagi menuju Simago-mago.

Aek Milas Sosopan ini adalah pemandian umum air panas yang gratis.  Gak kalah dengan onsen di Jepang, lah. Letaknya persis di tepi jalan.  Bedanya dengan onsen, di sini gak boleh mandi tanpa busana. Bedanya lagi, di Sosopan tidak ada orang yang bisa berendam, saking panasnya air di sana. Pengunjung hanya duduk di tepi kolam lalu mandi dengan air yang sudah didinginkan di dalam gayung.

Tahun lalu saya ke sana, rasanya kok ada penurunan. Sangat jorok. Sampah sampo dan sabun di sana-sini. Dulu lebih bersih. Entahlah. Selain di Sosopan, pemandian air panasnya lainnya ada di Padang Bujur. Tempatnya agak jauh ke dalam. Mungkin karena itu tempatnya menjadi kurang popular meski  kabarnya lebih bersih. Saya pernah ke sana, tapi tidak pernah mandi, hanya nongkrong di warung.

Adanya sumber mata air panas di satu wilayah biasanya menunjukkan ada aktivitas gunung api di sana. Di Sipirok juga begitu. Kota ini bertetangga dengan Gunung Sibualbuali (1.819 meter di atas permukaan laut), yang termasuk gunung api aktif kategori B. Artinya, meski aktif, gunung ini tidak pernah menunjukkan aktivitasnya sejak tahun 1.600-an.  Kata para ahli geologi, gunung ini terbentuk akibat amblasan (graben) sesar Sumatera yang berarah baratlaut-tenggara, sedikitnya terbentuk tiga kawah besar pada bagian puncak dan lerengnya.

Sedangkan Gunung Si Mago-mago yang jadi obyek wisata populer warga setempat hanyalah bukit kecil yang sama sekali tidak aktif. Bagi yang memakai kendaraan, bisa membawa kendaraannya naik ke atas puncak, karena sudah disediakan jalan beraspal yang landai. Mau jalan pun tidak sulit. Paling sekitar 15 menit sudah tiba di puncak. Dekat, kan.

Konon, dinamakan Si Mago-mago karena orang yang datang ke  Si Mago-mago akan kelihatan hilang-timbul jika sudah di atas puncaknya. Benar-tidaknya saya tidak yakin. Karena selama ke sana tidak pernah ada yang hilang, tuh. Pemandangan dari atas gunung cukup menyenangkan mata. Angin dingin yang menyapu badan juga nyaman untuk menjadikan gunung ini sebagai tempat kongkow yang murah-meriah.

Oiya,  datang Sipirok   kurang paripurna kalau tidak mampir ke rumah makan sop Sipirok di dekat pasar. Sop iga sapi di sini terkenal enak, sepadan dengan harganya. Pemiliknya juga sudah membuka cabang di Medan. Satu lagi penganan favorit saya adalah keripik sambal Taruma. Ini adalah keripik singkong yang di dalamnya dikasih sambal ulek merah. Keripiknya sih biasa,  sambalnya itu yang bikin ketagihan.

**

Cirebon dan Kisah Tiga Keraton

Cirebon menyimpan sejumlah obyek wisata menarik. Sayang, kurang diurus.

***

Gerbang alun-alun Keraton Kanoman, Cirebon, masih jauh. Bus berukuran sedang yang kami tumpangi merayap perlahan berusaha menembus “barikade” yang dibuat ratusan pedagang pasar tradisional.  Sampai di gerbang alun-alun, kemacetan bukannya membaik, tapi malah semakin parah. Persis di depan sebuah pohon besar, yang diberi papan nama bertulisan Waringin Wulung, bus tidak bergerak sama sekali. Ruas jalan yang disisakan oleh pedagang tak cukup untuk dilalui.

Negosiasi pun berlangsung. Si ibu pedagang setuju menggeser sedikit lapaknya dari tepi jalan. Tapi, karena ruang antara Waringin Wulung dan lapak pedagang terlalu sempit, goresan paku sepanjang 20 sentimeter di pintu bus menjadi oleh-oleh pertama kunjungan kami di Kota Cirebon dua pekan lalu.

Sesampainya di gerbang Keraton, kekecewaan menerpa semua anggota rombongan. Gerbang Keraton yang menyambut kami serasa tidak sepadan untuk membayar semua kesulitan tadi. Tembok batu bata berwarna merah itu sudah sompel di sana-sini. Porselen Tiongkok dan Eropa yang dipasang di dindingnya banyak yang raib.  Madrais, abdi dalem Keraton, yang telah mengabdi selama 50 tahun, dengan ramah membawa kami memasuki bagian dalam Keraton. Hamparan tanah kering serta gundukan sampah dedaunan dan botol plastik di banyak bagian sama sekali tidak sedap dipandang mata.

Sambil berjalan, kami melihat sebuah bangunan terbuka, yang menurut Madrais, dulu dipergunakan petugas protokoler Keraton menerima tamu Sultan. Bangunan itu kini sudah dipagari dengan bambu seadanya. Debu tebal menutupi lantainya.  Seolah terbiasa dengan tatapan para pengunjung yang bergidik dengan sambutan itu, Madrais mulai berkisah. Keraton Kanoman dibangun di masa pemerintah Sultan Anom Makarini Muhammad Badirin, keturunan ketujuh Sunan Gunung Jati, pada 1510 Saka atau 1588 Masehi.

Prasasti tahun berdirinya keraton terdapat di pintu pendapa Jinem, yang menuju ke ruangan Prabayaksa. Di sana terpahat gambar prabayaksa dan candrasengkala, yang terdiri atas matahari, yang artinya 1; wayang Darma Kesumah, yang artinya 5; bumi, yang artinya 1; dan binatang kamangmang, yang artinya 0.

Keraton ini merupakan satu kompleks berbentuk empat persegi panjang yang membentang dari utara ke selatan. Di dalamnya terdapat bangunan sitinggil yang terletak di depan sebelah timur kompleks. Bangunan ini dikelilingi candi laras pada setiap sudutnya.

Selain sitinggil, di dalam kompleks keraton seluas 12 hektare itu terdapat bangunan paseban sebagai tempat membuang takir pada saat sekatenan, sumirang sebagai tempat menerima tamu, langgar, dapur, bangunan induk, singabrata, keputren, kaputran, witama, pedalaman, bangsal, serta pulantara.

dscn2533

Balai Manguntur di kompleks Sitinggil, Keraton Kanoman

Madrais lalu membawa kami ke sebuah bangunan yang dijadikan museum untuk menyimpan kereta yang dulu dipakai para sultan dan permaisurinya, yaitu Kereta Jempana dan Kereta Paksi Naga Liman. Museum itu juga menyimpan koleksi peralatan perang, debus, dan cendera mata dari negara sahabat.

Lebih buruk daripada bangunan lainnya, bangunan museum sudah dalam kondisi rusak parah. Eternitnya jebol di sana-sini akibat tetesan air hujan dari atap yang bocor. Dari luar, genting di bagian tengah ruangan terlihat sudah anjlok, pertanda balok reng penyangga genting patah.

Pemandangan tadi niscaya akan terasa semakin membuat miris begitu mendengar kenyataan yang terjadi pada takhta Kesultanan Kanoman. Saat ini Kanoman dipimpin dua sultan, yaitu Muhammad Emiruddin dan Muhammad Saladin.
Perpecahan yang terjadi sejak lima tahun lalu ini dipicu oleh surat wasiat sultan sebelumnya yang memberikan takhta kepada Saladin, yang merupakan anak dari selirnya. Wasiat ini dianggap menyalahi pakem Keraton karena anak laki-laki tertua dari permaisuri adalah Emiruddin.

Jangan terlalu kecewa dulu. Sebab, keraton sebelumnya yang kami kunjungi, yaitu Keraton Kasepuhan, yang hanya berjarak 10 menit perjalanan kendaraan bermotor dari Kanoman, kondisinya sedikit lebih baik. Walau tetap saja keraton ini tidak steril dari anak-anak yang bermain sepeda, bahkan pedagang minuman ringan.

Keraton Kasepuhan didirikan pada 1529 oleh Pangeran Mas Mochamad Arifin II. Ia adalah cicit Sunan Gunung Jati, yang menggantikan takhta Sunan Gunung Jati pada 1506. Keraton Kasepuhan dulunya bernama Keraton Pakungwati. Nama Pakungwati berasal dari nama Dewi Pakungwati, anak perempuan Pangeran Cakrabuana, yang merupakan istri Sunan Gunung Jati.

Pakungwati wafat pada 1549 saat memadamkan kebakaran di Masjid Agung Sang Cipta Rasa, yang terletak di sebelah barat laut alun-alun. Untuk menghormati pengorbanan beliau, namanya diabadikan menjadi nama keraton. Saat Kesultanan Cirebon terbagi dua, Keraton Pakungwati berubah nama menjadi Keraton Kasepuhan (sepuh artinya tua) di bawah pimpinan Pangeran Mertawijaya, yang bergelar Sultan Sepuh Mohammad Syamsudin Mertawijaya, dan keraton lainnya, yang berdiri belakangan, dinamai Keraton Kanoman (anom artinya muda).

Untuk masuk ke dalam kompleks keraton, tersedia dua pintu gerbang utama. Di sebelah utara disebut Kretek Pangrawit dan di selatan disebut Lawang Sanga, yang artinya pintu sembilan. Nama pintu selatan diambil dari sembilan wali yang menyebarkan agama Islam di Jawa.

Keraton Kasepuhan (www.jabarprov.go.id)

Keraton Kasepuhan (www.jabarprov.go.id)

Keraton Kasepuhan (www.jabarprov.go.id)

Keraton Kasepuhan (www.jabarprov.go.id)

Area keraton seluas 25 hektare ini terdiri atas bangunan induk, pancaratna (untuk menghadap wedana keraton), pancaniti (tempat perwira melatih prajurit dalam peperangan), tempat jaksa menuntut hukuman mati, tempat tontonan, sitinggil, paseban (sebagai rumah jaga), langgar agung (sebagai tempat salat para kerabat keraton), sri manganti, singabrata, langgar, dan dapur.

Sekitar 100 meter ke arah barat laut Keraton Kasepuhan berdiri Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Dari namanya, sang berarti keagungan, cipta artinya dibangun, dan rasa artinya digunakan. Secara sederhana, sang cipta rasa dapat diterjemahkan sebagai satu bangunan yang dibangun untuk digunakan demi mencapai keagungan.

Pendirian masjid diprakarsai Sunan Gunung Jati. Sedangkan arsitek masjid tersebut adalah Sunan Kalijaga, yang dibantu dua arsitek Majapahit yang beragama Islam, yaitu Raden Sepat dan Raden Trepas. Pendirian masjid ini melibatkan 500 tenaga kerja dari Cirebon, Demak, dan Majapahit. Pembangunan masjid selesai pada 1498.

Masjid Agung Sang Cipta Rasa (disparbud.jabarprov.go.id)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa (disparbud.jabarprov.go.id)

Atap masjid disangga oleh 12 pilar yang terbuat dari kayu jati setinggi 6 meter dan berdiameter 60 sentimeter. Satu pilar di sudut kiri pintu utama terbuat dari potongan kayu jati sepanjang setengah meter yang direkatkan. Tiang itu disebut saka tatal, yang artinya kurang-lebih tiang serpihan kayu.

Tiang ini dibuat khusus oleh Sunan Kalijaga dengan menggunakan lem dari getah damar. Rangkaian kayu jati kemudian diikat dengan tali ijuk. Setelah getah mengering dan keras, tali dilepas dan tiang siap digunakan.
Makna yang terkandung di tiang ini lebih bernilai daripada fungsinya sebagai salah satu pilar masjid. Lewat karyanya, Sunan Kalijaga berpesan: sekecil apa pun suatu kelompok masyarakat, bila bersatu, akan menjadi kuat juga.

Masih di kota yang sama, ada lagi sebuah keraton yang bernama Keraton Kacirebonan. Keraton ini adalah yang termuda di Cirebon, sehingga tidak aneh bila arsitekturnya lebih modern dan bergaya Belanda. Terus terang tidak ada yang istimewa dari keraton yang satu ini.

Keraton Kacirebonan didirikan pada 1814 oleh Raja Kanoman. Tapi, karena sejarahnya yang dianggap membelot dari kesultanan, bangsawan Kasepuhan dan Kanoman hanya mengakui Kacirebonan sebagai kepangeranan, bukan keraton.
Bangunan Keraton Kacirebonan menghadap utara dengan denah memanjang utara-selatan. Keraton ini terdiri atas bangunan induk, paseban, langgar agung, gedung ijo, pringgowati, dan kaputran. Bangunan induk merupakan tempat tinggal sultan beserta keluarganya, terdiri atas enam kamar tidur, ruang kerja sultan, pecira, kamar jimat, prabayaksa, dapur, dan teras.

dscn2519

Keraton Kacirebonan

Keraton Kacirebonan

Keraton Kacirebonan

* *
Gua Sunyaragi nan Sepi

Setelah keraton, masih ada satu obyek wisata lagi yang masih berkaitan dengan kesultanan di Cirebon, yaitu Taman Gua Sunyaragi, yang dibangun Pangeran Aryo pada 1703. Sunya artinya sepi, raga artinya jasmani. Gua ini dibangun sebagai tempat latihan perang prajurit, pembuatan alat-alat perang, dan tempat bertapa.

Gua Sunyaragi (disparbud.jabarpov.go.id)

Gua Sunyaragi (disparbud.jabarpov.go.id)

Gua ini berdiri di atas tanah seluas 18.640 meter persegi dan menghadap ke timur. Bangunannya terbuat dari batu karang, beton, batu bata, dan kayu. Taman Sunyaragi terdiri atas bangunan pesanggrahan dan bangunan gua. Pesanggrahan merupakan bangunan berbentuk rumah tinggal dilengkapi dengan kolam dan dua buah kamar berukuran 4,8 x 5,5 meter persegi.

Untuk merawat peninggalan bersejarah yang kini jadi obyek wisata itu memang tidak mudah. Kendala utamanya apa lagi kalau bukan soal dana yang terbatas.  Mengenai minimnya biaya perawatan ini, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Cirebon Mochamad Hanafiah punya jawaban. Menurut dia, dari 13 dinas yang ada di Cirebon, anggaran yang dialokasikan untuk Dinas Kebudayaan dan Pariwisata paling kecil.

Dari total Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah 2006 sebesar Rp 243 miliar, Dinas Pariwisata hanya mendapat alokasi Rp 1,2 miliar. “Memang naik dibanding 2005 yang cuma Rp 200 juta. Tapi, untuk pengembangan benda cagar budaya, masih kurang,” kata dia.

Ia mengungkapkan pendapatan asli daerah dari kegiatan pariwisata di kota yang berjarak 257 kilometer dari Jakarta ini memang sangat kecil, hanya Rp 20 juta per tahun. Retribusi di seluruh obyek wisata milik keraton, termasuk Gua Sunyaragi, menjadi hak keraton. “Kami tidak tahu berapa pendapatannya, dan pengeluaran untuk keraton,” ujarnya.

(Dimuat dalam Rubrik Perjalanan Koran Tempo, edisi Minggu, 24 September 2006)

Catatan:
Perkembangan terbaru, pada Mei 2013 lalu,  pemerintah pusat menyatakan telah menyiapkan anggaran Rp 159 miliar untuk merevitalisasi Keraton Kasepuhan, Kanoman,  Kacirebonan, dan Kaprabonan,  ditambah makam Sunan Gunung Jati.  Targetnya sih, bakal setara dengan bangunan-bangunan kuno di Roma. Bisakah? InsyaAllah. Mari kita dukung.

Festival Loy Krathong: Persembahan bagi Dewa Sungai

Sungai Chao Phraya menjelang Festival Loy Krathong.

Sungai Chao Phraya menjelang Festival Loy Krathong.

Bus pariwisata bertingkat dua yang saya tumpangi merangkak pelan mengikuti arus kemacetan lalu lintas Kota Bangkok, Thailand. Sore itu, 24 November 2007,  saya dan rombongan wartawan yang diundang oleh Tourism Authority of Thailand dan maskapai Air Asia tengah menuju Sungai Chao Phraya di wilayah barat Bangkok untuk mengikuti festival tahunan Loy Krathong.

Soal kepadatan lalu lintas ibu kota Thailand ini mengingatkan saya pada Jakarta. Di kedua ibu kota negara ini, pertambahan panjang ruas jalan tertinggal di belakang pertambahan jumlah kendaraan. Cuma bedanya, di Bangkok jarang terdengar bunyi klakson. Padahal soal gaya mengemudi sopir Bangkok tak kalah “rusak” dengan pengemudi di Jakarta.

Saya pernah iseng menghitung, di tepi jalan Pasar Chatuchak yang macet, selama 10 menit, hanya terdengar lima kali bunyi klakson! Kok bisa, ya? Pemandu kami, Dennis, punya jawabannya. “Dulu Bangkok juga berisik seperti Jakarta. Raja tidak suka, minta klakson dikurangi,” kata dia dalam bahasa Indonesia yang lancar.

Dan malam itu kemacetan semakin buruk. Semua kendaraan tumpah ruah ke jalanan Bangkok. Sama seperti kami, orang-orang ingin ikut memeriahkan festival Loy Krathong, yang dirayakan setiap malam bulan purnama ke-12 dalam hitungan kalender bulan masyarakat Thailand.

Loy dalam bahasa Indonesia artinya mengapungkan, sedangkan krathong adalah sesajen yang terbuat dari dasar batang pisang–kini banyak diganti dengan Styrofoam–yang dihiasi dengan daun pisang, bunga, lilin, dan hio. Jadi “loy krathong” artinya kira-kira sama dengan melarung.

Rangkaian bunga yang akan dilarung.

Rangkaian bunga yang akan dilarung.

Pada malam purnama ke-12, masyarakat Thailand yang tinggal di dekat kanal, sungai, danau, atau laut akan melayarkan krathong-nya langsung ke atas air. Sementara itu, yang tinggal jauh dari air atau di pegunungan akan melepaskan lampion ke udara.

Festival ini konon dimulai masyarakat Thailand kuno atas prakarsa Raja Sukhotai bernama Lithai, yang memerintah pada 1346-1374. Krathong dimaksudkan sebagai persembahan kepada Phra Mae Kong Ka, dewa sungai dalam agama Hindu. Tidak jarang, di dalam krathong juga disertakan koin, rambut, dan potongan kuku sebagai simbol membuang sial, karma buruk, dan penyakit.

Walau hari masih sore, sepanjang jalan kota yang kami lalui terlihat kesibukan yang luar biasa menyambut Loy Krathong. Di dekat sebuah kampus, ratusan muda-mudi tampak membawa krathong ke dalam kampus mereka. Rupanya mereka hendak melepas krathong ke danau yang terdapat di dalam kampus.

Sore berganti malam, tepian Sungai Chao Phraya sudah mulai terlihat. Tapi kemacetan belum juga bisa ditembus. Kami mulai cemas. Sebab, sejak siang, Dennis sudah mewanti-wanti agar kami tepat waktu. Kapal pesiar yang akan membawa kami menyusuri Chao Phraya akan berangkat pukul 19.00. Itu artinya kurang lima menit lagi.

“Sawasdee khap, selamat malam, saya Dennis,” salam khas pria setengah baya itu terdengar lirih dari pengeras suara. Dengan ekspresi kecewa, ia melanjutkan, “Saya minta maaf kepada Air Asia, kapal pesiar sudah berangkat, kita terlambat,” ujarnya sambil menunjuk ke arah sebuah pelabuhan kecil.

Seisi bus terdiam. Terbayang festival yang hanya setahun sekali ini harus terlewat gara-gara kami terlambat. Beberapa detik kosong, Dennis mendadak tersenyum penuh kemenangan. “Saya berbohong. Kapal berangkat pukul delapan. Kalau tadi saya jujur, pasti akan telat,” kata dia.  Kontan kami ribut dan marah-marah kepada Dennis.

Sepuluh menit kemudian, kami sampai di sebuah pelabuhan kecil di kawasan Thon Buri. Kota di sisi barat Sungai Chao Phraya itu dulunya pernah menjadi ibu kota Thailand pada masa Raja Taksin (memerintah 1768-1782). Pada 1782, Raja Rama I memindahkan ibu kota ke sisi timur Chao Phraya, yang menjadi Bangkok sekarang.

Di pelabuhan telah menanti tiga kapal pesiar Chao Phraya Princess I, II, dan III. Kapasitas setiap kapal pesiar bertingkat dua 100-200 penumpang. Sesudah menunggu beberapa saat, kami dipersilakan naik ke kapal masing-
masing.

Sebelum menginjakkan kaki ke jembatan, tiba-tiba seorang perempuan berpakaian adat Thailand yang membawa krathong mendekati saya. Seorang laki-laki dengan sigap memotret kami berdua. Rupanya semua tamu diperlakukan serupa. “Bagus sekali pelayanan kapal ini,” demikian yang ada dalam pikiran saya.

Di atas kapal, hidangan prasmanan yang mewah sudah tersaji lengkap. Sambil menunggu makan malam dibuka secara resmi, kami dihibur oleh permainan saksofon di anjungan kapal. Sekitar pukul 20.00, hidangan pun dibuka. Lezat sekali. Segala jenis makanan tersedia, termasuk makanan penutup.

Sekitar pukul 20.30 WIB, kapal mulai bergerak melayari Sungai Chao Phraya. Alunan musik instrumentalia yang tadi mengiringi kami makan malam telah digantikan oleh penyanyi perempuan asal Filipina yang lincah. Pelan-pelan kapal berlayar. Sekilas saya mendengar, tarif berlayar dengan kapal ini 3.600 baht (sekitar Rp 1 juta).

Kapal ini terdiri atas dua tingkat. Tingkat pertama bertutup kaca. Rombongan kami mendapatkan tempat di lantai atas, yang terbuka. Sambil disapu semilir angin sungai, di sepanjang tepian Chao Phraya, saya menyaksikan ribuan sosok manusia bergerak melepaskan krathong mereka ke sungai. Festival telah dimulai.

Malam itu langit sangat cerah. Bayangan bulan yang bulat penuh memantul di riak air sungai. Semakin malam permukaan sungai semakin ramai oleh ribuan krathong yang berlayar. Timbul-tenggelam di atas air, krathong telah berlayar membawa serta dosa dan nasib buruk manusia ke dalam air. Di kejauhan saya juga melihat belasan lampion merah melayang.

Chao Phraya, yang membentang sepanjang 372 kilometer, malam itu dipercantik dengan hilir mudiknya belasan kapal hias warna-warni. Di setiap kapal selalu ada tulisan yang mengucapkan selamat ulang tahun kepada Raja Bhumibol Adulyadej yang ke-80. Masyarakat Thailand sangat mencintai raja mereka yang berulang tahun pada 5 Desember.

“Dar dar dar, bumm….” Mendadak di kejauhan terdengar suara letusan keras berkali-kali. Di langit kembang api berpijar-pijar dan lenyap, silih berganti warna-warni yang indah. Sebuah kapal khusus telah melepaskan kembang api ke udara. Selama lima menit penuh, tak putus-putus kembang api melesat dan meletup. Puluhan penumpang berdesak-desakan ke haluan kapal menyaksikan atraksi tersebut.

Setengah jam kemudian, terdengar pengumuman dalam bahasa Inggris, yang mengajak penumpang kapal ikut melarung. Saya pun bergegas mengambil krathong yang sudah tersedia sejak awal di atas meja makan tiap-tiap penumpang. Saya menyalakan lilin dan hio, lalu membawa krathong sebesar genggaman tangan itu ke lantai dasar.

Berbaur bersama puluhan penumpang lain yang berasal dari berbagai bangsa, saya menunggu giliran melepas krathong. Beberapa penumpang sesaat sebelum melepas krathong terlihat mengangkat krathong-nya ke atas kepala atau mendekatkannya ke dada dan berkomat-kamit. Mungkin sedang mengucap doa, menyatakan keinginan dan harapan-harapannya.

Melarung dari kapal pesiar.

Melarung dari kapal pesiar.

Perjalanan dengan kapal pesiar ini berlangsung kurang-lebih dua setengah jam dengan rute pulang-pergi ke arah selatan-utara. Selain menyaksikan festival itu sendiri, saat menyusuri Sungai Chao Phraya, kita bisa menyaksikan obyek wisata eksotik andalan Thailand yang memang banyak berbaris di tepian sungai.

Berlayar ke arah selatan, di sebelah kiri Chao Phraya saya menyaksikan pemandangan Istana Raja yang megah. Di sebelah Istana Raja terdapat Pagoda Phra Kaew, yang menyimpan patung suci Buddha Emerald. Terus ke selatan, kali ini di sebelah kanan berdiri mentereng Pagoda Arun Ratcha Wararam. Pagoda setinggi 79 meter berlapis porselen itu bersinar indah sekali pada waktu malam hari.

Tengah asyik tenggelam menikmati pesona Thailand dari atas air, perempuan kurus tinggi yang tadi berfoto bersama saya menghampiri meja kami. Di ketiaknya terselip kardus berisi foto-foto kami. Tanpa bersuara, dia menyerahkan foto-foto yang telah dibingkai itu kepada si empunya wajah.

Awalnya kami senang dan tersenyum lebar menyaksikan wajah-wajah kami sendiri. Tapi senyum itu tidak bertahan lama dan langsung buyar demi melihat sepotong kecil label di atas bingkai yang bertulisan 200 baht. Olala… ternyata foto-foto tadi tidak gratis, melainkan harus ditebus dengan harga Rp 60 ribu.

“Wah, ini sih jual paksa. Dua ratus baht bisa buat beli baju,” kata-kata sumbang mulai ramai. Setelah misuh-misuh sejenak, serentak kami menolak dan mengembalikan foto-foto tadi. “No, Miss. Khop khun khap,” kata kami berbasa-basi. Perempuan itu, yang beberapa menit lalu masih bertampang ramah, mendadak berubah sangat masam. Setelah mencabuti foto-foto kami dari bingkainya, ia pun bergegas pergi. Kesian deh, kamu.

(Dimuat dalam Rubrik Perjalanan Koran Tempo, Edisi Minggu 9 Desember 2007)