BBM Naik, Ekonomi 2013 Suram?

blog spbu

Kalau tidak ada kejadian luar biasa, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2013 akan disahkan di dalam sidang paripurna DPR 17 Juni mendatang. Selain perubahan asumsi-asumsi makro, target penerimaan pajak, dan sebagainya, yang paling penting dari pengesahan APBN-P kali ini adalah implikasinya. Tahu dong, jika APBN-P yang satu ini jadi disahkan, artinya harga BBM bersubsidi akan segera naik. Entah itu besoknya, atau bulan depannya.

Harga BBM subsidi naik, itu sih sudah wajib. Gimana, gak, nilai subsidi BBM tahun ini diperkirakan Rp 200 triliun (persisnya Rp 199,85 triliun). Jumlah itu sekitar 11,5 persen dari belanja negara 2013 yang sebesar Rp 1.726 triliun. Buayangkan..tahun 2005 subsidi BBM masih  Rp 95,6 triliun. Memang sih, ketika itu anggaran belanja negara hanya Rp 509,6 triliun, jadi persentase subsidi 2005 sebesar 18,8 persen dari belanja negara. Tapi, tetap saja, Rp 200 triliun itu sesuatu banget.

Katakanlah subsidi BBM gak dihapus 100 persen, 30 persen saja, menurut pemerintah penghematannya sekitar Rp 42 triliun. Jangan ditanya, saya juga tidak mengerti kenapa tidak jadi Rp 60 triliun. Mungkin karena besar kenaikan solar-premium tidak sama dan ada kenaikan volume pemakaian seiring dengan pertumbuhan kendaraan bermotor. Terus, dari Rp 42 triliun, dikurangi dana kompensasi BBM Rp 28 triliun, masih ada sisa Rp 14 triliun lagi. Lumayanlah, dari pada nambah utang. Belum lagi penghematan di tahun-tahun mendatang.

Memang sih, ada risikonya dalam jangka pendek. Yang jelas inflasi akan melambung, pertumbuhan ekonomi mengkerut, penjualan otomotif turun, suku bunga kredit naik, daya saing ekspor turun. Loh, kok banyak ya dampak negatifnya. Tapi, itu kan semua jangka pendek, tahun depannya lagi juga stabil, dengan catatan BBM gak naik lagi.

Salahnya pemerintah juga. Infrastruktur tidak dibenahi, akibatnya, kualitas pertumbuhan ekonomi kita menuju stagnan. Tumbuh, tapi lambat, bahkan dalam keadaan ekonomi bullish, pertumbuhan kita biasa saja. Apalagi saat sulit kayak begini. Ditambah lagi kenaikan BBM, menjelang puasa dan Lebaran pula.

Banyak ekonom yang khawatir kenaikan BBM menjelang puasa dan Lebaran akan memukul inflasi lebih dahsyat lagi. Harga-harga akan naik gila-gilaan karena dua faktor: biaya produksi tinggi dan permintaan tinggi. Walhasil, bulan-bulan mendatang hidup akan lebih susah. Maklum, harga kalau sudah naik, sulit turun lagi (deflasi hanya terjadi paling banyak 2 bulan dalam setahun).

Seberapa parahnya dampak dari kenaikan BBM bisa tercermin dari pengalaman kenaikan tahun-tahun sebelumnya:

Tahun      Premium            Inflasi (%)   Mobil (ribu)  Pertumbuhan (%)   Investasi
2005    1.810–>4.500            17,11           533             5,7                         –
2006     –                               6,6              318             5,48                       Turun 32%
2007     –                               6,59            433             6,3                          –
2008    4.500–>6.000            11,06           603             6,2                          –
2009    5.000–>4.500            2,78             483             4,5                         Turun 12,5%
2010     –                               6,96             –                 6,1                         –
2011     –                               3,79             –                 6,5                         –
2012     –                               4,3             1.116            6,23                       –

Kelihatan dari tabel, kenaikan BBM akan langsung memukul inflasi pada tahun yang sama (dibaca: harga-harga barang dan jasa naik), dan menekan penjualan mobil/pertumbuhan ekonomi di tahun berikutnya.  Tahun ini, dalam APBN-P 2013 disepakati asumsi inflasi 7,2 persen, lebih rendah dari prediksi beberapa ekonom yang menyebut inflasi akibat BBM 7,9 persen. Kalau target itu tercapai, berarti inflasi relatif terkendali, meski tetap tinggi.

Persoalannya, inflasi tinggi  membuat investor malas datang. Apalagi infrastruktur kita masih buruk. Dan biasanya, dampaknya baru terasa pada tahun berikutnya. Kenapa begitu? Gak tahu juga, ilmu saya belum nyampe.

Jadi, bener dong ekonomi 2013 suram? Rasanya kok bener ya. Tahun ini kita akan melihat pukulan bertubi-tubi terhadap ekonomi. Bukan cuma akibat kenaikan BBM, tapi juga perlambatan ekonomi dunia, daya saing produk kita yang rendah (membuat ekspor makin lama makin turun), infrastruktur yang memble, produksi minyak makin sedikit. Saya khawatir, satu-satunya jalan yang bisa menyelamatkan ekonomi dari kemerosotan lebih dalam adalah menjaga konsumsi domestik.

Tahun lalu, porsi konsumsi domestik mencapai 55 persen dari PDB. Investasi porsinya 30 persen, sisanya ekspor dan belanja pemerintah. Mungkin, di mata pemerintah, selain untuk menjaga kualitas hidup kelompok masyarakat miskin, fungsi BLSM juga untuk menjaga konsumsi domestik. Cuma saya merasa aneh mengenai BLSM ini,  mau berhemat kok malah mengguyur uang tunai, yang jelas habis tak berbekas. Gak ada hasilnya.

Suram yah…gambarannya. Tapi, jangan khawatir, dari sejarah, setelah kenaikan BBM biasanya ekonomi akan tumbuh lebih kencang (meski harusnya bisa lebih kencang lagi kalau manajemennya beres). We’ll see.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s