Cooper Test, The Two Days Series

endomondospotlight

Ondemande

Salah satu fitur yang terpasang dalam aplikasi Endomondo adalah Cooper Test. Fitur ini terinspirasi tes kebugaran fisik yang diciptakan oleh Kenneth H. Cooper pada tahun 1968 untuk keperluan militer Amerika Serikat. Menurut Wikipedia, bentuk asli tes ini adalah berlari sejauh-jauhnya dalam waktu 12 menit.

Tes ini ditujukan untuk mengukur beban fisik yang dapat ditanggung seseorang. Karena itu, kita disarankan untuk berlari dalam kecepatan yang stabil, ketimbang lari sprint, berhenti, lalu lari lagi. Hasilnya diukur berdasarkan jarak yang ditempuh pelari dibandingkan dengan umur dan jenis kelamin.

Hasil Cooper Test juga dapat dipakai untuk mengukur tingkat VO2 Max (kapasitas maksimum oksigen yang dapat digunakan dan dihantarkan oleh tubuh selama latihan dengan intensitas yang terus meningkat). Satuannya adalah liter oksigen per menit (L/min), atau mililiter oksigen per kilogram berat badan per menit (mL/kg/min).

Syarat untuk mengukur VO2 Max adalah tes harus dilakukan dalam kondisi  pasokan oksigen ke otot jantung berlangsung maksimal. Kegiatan fisik yang  memenuhi kriteria ini antara lain adalah lari, bersepeda, atau mendayung.  Lamanya tes juga harus menjamin terjadinya kerja jantung maksimal. Umumnya berlangsung 6- 12 menit.

cooper test2

Tabel Cooper Test

Cooper Test terakhir kali saya lakukan sekitar enam bulan lalu. Ketika itu hasilnya tidak begitu bagus. Hanya menempuh 2.060 meter dalam 12 menit. Kalau dikonversikan ke tabel Cooper Test, dengan kelompok usia saya, itu hanya masuk kolom average  alias rata-rata. Setingkat di atas  bad  dan setingkat di bawah good.

Supaya naik kelas ke kolom good–yang berarti kondisi fisiknya juga dianggap bagus,  saya pun berlatih keras. Keras maksudnya berupaya keras melawan rasa malas. Setelah merasa cukup, hari ini saya mencoba kembali menguji kondisi fisik terbaru berdasarkan temuan Pak Cooper (apa beliau juga penemu Lee Cooper?) ini. Rencananya, Cooper Test akan berlangsung dua hari berturut-turut, hari ini dan besok. Mumpung perai. Dan, hasilnya adalah….:

Hari #1
Hasil: 2.080 meter.
Hah! Mengecewakan. Meski Bung Endo bilang ada improvemnet 26 meter dari catatan waktu sebelumnya, hasil ini di luar perkiraan. Saya berpikir minimal bisa menembus 2.100 meter. Kok bisa begini? Saya mencoba menganalisis, mungkin kesalahannya terletak pada pemilihan rute. Dulu, saya berupaya memilih rute yang paling banyak jalur datarnya. Maklum, jalan kampus UI yang berkontur sulit untuk menemukan rute 2 kilometer yang rata. Ada saja naik-turunnya.  Nah, tadi, rasanya salah memilih jalur yang penuh gelombang. Akibatnya, tenaga habis di jalur menanjak. Berhubung saya bukan ‘raja tanjakan’, habislah itu nafas. Untuk besok, saya akan mencoba rute yang lain. Mudah-mudahan hasilnya lebih baik.
kontur

Hari #2
Hasil: 2.100 meter.
Yes! Ada peningkatan, meski cuma seupil. Soal pemilihan rute tidak banyak berpengaruh tampaknya. Kalau mau rute yang 100 persen datar memang harus di running track, tidak bisa di road track.  Mau tidak mau, saya harus mengucapkan selamat kepada diri saya sendiri. Berhasil masuk ke kolom average dalam Cooper Test bulan ini. Sampai jumpa bulan depan.
cooper test3

cooper test4

2 thoughts on “Cooper Test, The Two Days Series

    • Terima kasih, Pak Agus. Saya yakin pasti bisa, kalau dilatih secara bertahap. Di AS ada keturunan India umur 90 tahun ikut lomba lari full marathon. Usia tidak jadi penghalang, Pak. Semangat terus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s