Soluna Ajrut-ajrutan, Saatnya ke Bengkel

wpid-2013-06-28-14.59.49.jpg

Sudah beberapa bulan belakangan Si Soluna Biru jalannya ajrut-ajrutan. Setiap melewati jalan bergelombang, melambunglah dia ke sana-ke mari. Belum lagi kalau melintasi ranjau lubang, dari kaki depan kedengaran bunyi seperti logam diadu. Jumat lalu, mumpung pegang duit, jadilah saya bertandang ke bengkel langganan. Tempatnya kesohor di Depok. Bukan bengkel itu maksudnya, tapi lokasinya, yaitu di pusat bengkel dan orderdil mobil Ramanda. Puluhan bengkel, pedagang orderdil, aksesoris, sampai tempat pengecatan body tumplek di sana.

Terletak di pertigaan jalan Margonda-Arif Rahman Hakim, Ramanda ini dulunya adalah pusat perbelanjaan berlantai tiga. Pada tahun 1990-an, dia termasuk paling mentereng di Depok, karena waktu itu belum ada satu mal pun. Ada juga paling Hero dan Borobudur yang sekarang jadi Informa dan Ace Hardware. Sekitar tahun 1990-an, Ramanda jadi tempat andalan buat belanja kebutuhan sehari-hari mahasiswa. Saya dan teman-teman, jauh-jauh datang dari Asrama Mahasiswa UI hanya untuk belanja Indomie di Ramanda. Kini, Ramanda yang dulu megah berubah jadi pusat bengkel yang kumuh namun lengkap dan murah.

Begitulah, saya melajukan mobil ke Ramanda. Setelah di-test drive sama si uda pemilik bengkel, vonisnya pun jatuh. Kemungkinan shock absorber dan ball joint-nya rusak. Shock absober itu fungsinya membantu per meredam guncangan saat mobil melaju. Katanya, bila terlalu sering menahan guncangan dengan beban berlebih, daya tahan shock akan berkurang dan lemah. Akibatnya, mobil akan terasa limbung sewaktu dikendarai, terutama saat melaju kencang. Karena yang bekerja tinggal per-nya saja. Sedangkan ball joint gunanya sebagai sumbu roda ketika roda belok ke kiri dan ke kanan.

Shock Absorber

Shock Absorber

Kerusakan kedua komponen itu saya sudah duga. “Oke, bongkar,” kata saya memberi persetujuan. Seperti biasa, setelah dibongkar pasti ada saja nemu kerusakan baru. Akhirnya, ada empat komponen yang ‘disepakati’ rusak. Yakni shock, ball joint, tie rod (sebenarnya yang rusak cuma sebelah kanan, karena beli harus sepasang terpaksa diganti dua-duanya), dan bushing arm. Tie rod ini berfungsi untuk meneruskan putaran kemudi, sehingga roda depan bisa belok ke kanan dan ke kiri. Tie rod terbagi dua yaitu long tie rod atau rack end dan tie rod end atau tie rod saja. Adapun bushing  bertugas meredam getaran pada sambungan antar komponen suspensi steering.

Ball joint

Ball joint

wpid-2013-06-28-16.38.22.jpg

Tie rod

Tie rod

Kerusakan pada bushing tidak hanya menyebabkan suara berisik, tetapi juga mempengaruhi kenyamanan pengendalian mobil. Bahkan laju mobil tidak akan stabil. Cara mendeteksi kondisi komponen itu adalah dengan mencermati arah laju mobil. Bila cenderung melenceng ke kanan atau ke kiri, berarti bushing sudah layak diganti.

Di antara semua komponen itu, shock yang paling mahal. Barang baru di atas Rp 1 juta. Tapi, kalau lagi cekak dan merasa cukup memakai barang bekas pun ada. Contohnya sore itu, saya memilih shock bekas yang harganya cukup miring, Rp 500 ribu saja, pakai garansi 1 tahun pula. Menurut anak buah si uda, shock bekas ini biasanya berasal dari mobil yang ditanggung oleh asuransi. Spare part yang lain saya pilih barang baru, meski hanya KW.

Selesai spooring ala bengkel jalanan—empat ban diukur pakai benang, trus diluruskan dengan menyetel baut di bawah kolong, tiba waktunya membayar. Total-total, ditambah ganti kabel speedometer yang putus, Rp 1,5 juta kekayaan saya berpindah ke tangan si uda dan anak buahnya. Dan wuss….Soluna Biru kembali melaju mulus, walau melewati polisi tidur yang sekarang sering dibuat berjejer tiga.

Jakarta International 10K 2013: It Works !

jakartainternational10k logotema-JI10K2013

Alhamdullillah, hari Minggu lalu kami–saya dan istri, sukses mengikuti lomba lari 10K pertama kami di Jakarta International 10K 2013. Sukses bagi saya karena berhasil memecahkan rekor sendiri, sukses buat istri karena berhasil masuk finish. Memang bukan rekor yang fantastis, berdasarkan catatan jam panitia sekitar  1 jam 9 menit. Sedangkan catatan Endomondo–yang lebih cepat 200 meter dari perhitungan jarak versi panitia, sekitar 1 jam 7 menit.

Sekali lagi, Endomondo menunjukkan perbedaan dari perhitungan di darat. Toleransi akurasinya sama dengan sewaktu saya mengikuti Mandiri Run 2013, sekitar 200 meter. Bedanya, di Mandiri Run akurasi Endomondo lebih lambat 200 meter. Jadi, bisa disimpulkan, toleransi kesalahan Endomondo plus-minus 200 meter. Tapi, tetap saja catatan waktu 1 jam 9 menit itu menyenangkan. Karena berarti lebih cepat 3 menit dari waktu tercepat saya selama latihan. Bravo!  Bravo!

Yang menarik, entah ada kaitannya atau tidak, selama dua pekan ini saya  berlatih  menggunakan metode latihan lari interval (interval training).  Saya kutip dari blog panduanpelari.web.id, yang dimaksud dengan latihan interval adalah berlari dengan kecepatan yang berganti-ganti antara lari sprint dan lari lebih lambat. Interval antara sprint-lambat dapat berpatokan pada jarak atau waktu. Pola latihan interval ini bertujuan membuat tubuh dapat melakukan  sprint secara berulang kali dengan mengistirahatkan otot tanpa menurunkan detak jantung.

Target utama latihan ini adalah  mendongkrak nilai VO2 Max  dengan cara menempatkan tubuh pada kondisi sedikit di atas ambang batas atas kekuatan (maximum power threshold) dalam waktu total yang cukup lama.  VO2 Max adalah istilah untuk mengukur kapasitas maksimum oksigen yang dapat digunakan dan dihantarkan oleh tubuh selama latihan dengan intensitas yang terus meningkat. Satuannya adalah liter oksigen per menit (L/min), atau mililiter oksigen per kilogram berat badan per menit (mL/kg/min).

Latihan interval training  juga berguna meningkatkan kepadatan mitokondria (organel sel tempat berlangsungnya fungsi respirasi sel. Organel ini bekerja mengolah zat-zat gizi makanan menjadi energi untuk aktivitas sel) dalam sel otot sehingga kerja otot lebih efisien. Dalam dunia olahraga ketahanan, mungkin latihan ini adalah yang paling efektif. Lakukan latihan ini secara teratur, maka Anda sudah dapat mendekati kekuatan para atlet profesional.

Interval training dapat dilakukan pada sebuah lapangan lari dengan panjang lintasan 400 meter atau lintasan jalan raya biasa. Mula-mula, Anda sprint satu putaran atau sekitar 400 meter. Setelah itu,  ganti kecepatan menjadi lari lambat. Usahakan agar tubuh pulih  pada fase ini,  sehingga putaran berikutnya Anda dapat  sprint lagi. Semakin banyak sprint yang dapat Anda lakukan,  semakin baik hasilnya.

Ya, begitulah. Latihan interval ternyata membuahkan hasil. Pelan tapi pasti.  Kalau jika dihitung secara keseluruhan, dari latihan 10K pertama sekitar sebulan lalu dengan catatan awal 1 jam 18 menit, berarti sudah ada peningkatan 9 menit. Sampai akhir tahun, saya menargetkan bisa mencapai kecepatan 10K di bawah 1 jam dan kecepatan 5K di bawah 30 menit (saat ini sekitar 32 menit). Let’s run and push your limits!

Orasi Anies Baswedan dalam Acara 19 Tahun Pembredelan Tempo

image

“Terjadi perkawinan tak suci, UNHOLY MARRIAGE, antara media massa – pemilik modal – dan politik. Kondisi ini terjadi di sangat banyak media. Seorang teman saya pernah menantang, coba sebut siapa orangnya yang tidak bisa dihargai dengan rupiah. Everybody has a price tag. Memang tak terhindarkan, tapi dengan jurnalisme patriotik bisa dihadang. Setidaknya, media terus berusaha. Media tentu butuh modal, tapi keteguhan yang dimiliki jurnalis bisa menempatkan kepentingan pemilik modal pada tataran bawah.”

“Media massa masa depan bukan hanya menyajikan fact, kenyataan, tapi juga menyajikan ALTERNATIF KENYATAAN. Bukan hanya mengajukan AGENDA,  tapi juga PRIORITAS untuk menghasilkan PERUBAHAN. Dalam survei, Obama hanya meraih popularitas 2 persen, sedangkan Hillary 100 persen. Semua orang kenal Hillary. Tapi, media memberikan ruang yang sama kepada Obama untuk menyajikan kenyataan alternatif, sehingga muncul banyak tokoh-tokoh alternatif baru. Bukan cuma media, partai politik di sana juga memberikan ruang bagi munculnya sosok alternatif. Media massa punya kemewahan untuk mendorong beberapa, tidak hanya satu, tokoh alternatif.”

Tempo harus terus berupaya menjaga alasan kehadirannya di negeri ini, yakni “UNTUK PUBLIK, UNTUK REPUBLIK.” Media, tidak hanya Tempo, juga harus terus menjaga kebaruan gagasan. Kalau dia menawarkan sesuatu yang baru, maka dia MUDA, tak peduli berapapun umurnya. Sebaliknya, kalau dia tidak menawarkan sesuatu yang baru, maka dia TUA, berapapun umurnya.”

Anies Baswedan, Rektor Universitas Paramadina, dalam orasi di acara peringatan 19 tahun (21 Juni 1994-21 Juni 2013) pembredelan Majalah Tempo, Kebayoran Center, 24 Juni 2013.

Nenek Moyang Suku Nias (2): Ono Niha Menggeser Penghuni Terdahulu

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Een_familie_op_Nias_TMnr_10005771

Orang Nias yang ada sekarang bukanlah manusia pertama di Pulau Nias. Menurut arkeolog Badan Arkeologi Medan, Ketut Wiradyana, sejarah Nias bermula sejak 12 ribu tahun lalu. Ketika itu Nias didatangi manusia ras Austromelanesoid dari kebudayaan Hoabinh, yang biasanya bermukim di gua-gua Vietnam utara.

Manusia awal yang menempati Nias ini bertubuh besar, berkulit gelap, dan mempunyai tengkorak lonjong. Mereka menyusuri jalur barat melewati Thailand, Semenanjung Malaysia, dan menyeberang ke pantai timur Pulau Sumatera.  Manusia Austromelanesoid ini datang bergelombang dan hidup nomaden menyusur pantai timur ke arah utara, lalu berbelok ke selatan melewati pantai barat sampai akhirnya menyeberang ke Pulau Nias.

Selama perjalanan, mereka memanen hasil laut dan menumpuknya di Banda Aceh, Aceh Utara, Aceh Timur, Langkat, sampai Bintan.

”Jejaknya berupa bukit kerang sisa makanan dan alat batu bernama sumatralith,” ujar Ketut, pada 22 Mei lalu.  Artefak yang sama ditemukan di Gua Togi Ndrawa di Desa Lelewonu Niko’otano, Gunungsitoli, dan Nias.

 Penduduk awal Nias kemudian terdesak oleh kedatangan manusia Austronesia yang datang dari Taiwan.

Majunya peradaban manusia Austronesia menggeser eksistensi Austromelanesoid di Nias. ”Budayanya lebih maju, sudah mengenal padi dan logam,” kata Ketut.

 Jalur kedatangan ditempuh melalui Filipina, Sulawesi, dan Kalimantan, lalu menyusuri pantai Sumatera.

Peninggalan artefak manusia Austronesia tertua di Indonesia ditemukan di Minangas Sippako di Sulawesi Barat, yang umurnya diperkirakan 3.500 tahun silam. Menurut Ketut, kedatangan orang Taiwan di Nias terjadi 600 tahun lalu–3,5 milenium lebih lambat ketimbang teori Van Oven.

Bukti kedatangan ini ditemukan pada jejak peradaban megalitikum di Nias sekitar abad ke-15 dan menjadi nenek moyang bagi Ono Niha.

”Orang Nias sekarang menyebut leluhur mereka turun dari langit di Boronadu Gomo,” ucap Ketut. Boronadu Gomo adalah daerah di Nias tengah.

Manusia dari generasi yang lebih modern ini menempati kawasan di pantai Nias bagian selatan.

 Pemuka masyarakat Nias, Waspada Wau, membenarkan anggapan bahwa kepercayaan leluhur mereka berasal dari langit. Leluhur Ono Niha turun pertama kali di daerah Gomo, yang terletak di tengah pulau. Di daerah ketinggian ini mereka menetap dan mendirikan peradaban yang masih bisa dilihat sisanya hingga sekarang. ”Di Gomo banyak ditemukan menhir bikinan mereka,” ujar dia.

Menurut Wau, leluhur dari Gomo inilah yang kemudian turun ke berbagai daerah di Nias, termasuk kampung kelahirannya, Baweumataluo, di Nias bagian selatan, yang terkenal dengan tradisi lompat batu. Orang Gomo sendiri tidak memiliki tradisi lompat batu.

Penelitian Van Oven secara tidak langsung memberikan konfirmasi bukti arkeologis di Togi Ndrawa, meski ia tidak menganalisis artefak di gua kuno itu. ”Kami tidak menemukan bukti adanya hubungan genetik antara penduduk Nias kuno dan masyarakat yang ada sekarang,” kata dia.

Sumber: Mahardika Satria Hadi | Anton William (Koran Tempo) 

Nenek Moyang Suku Nias (1): Dari Taiwan Ke Ono Niha

Tradisi hombo batu (lompat batu) Suku Nias.

Tradisi hombo batu (lompat batu) Suku Nias.

Mannis van Oven terpana tatkala mengetahui hasil penelusuran genetik terhadap penduduk Nias. Peneliti biologi molekuler dari  Erasmus MC University Medical Center Rotterdam di Belanda ini menemukan bahwa genetik orang Nias berbeda dibanding etnis lain di Indonesia. Orang Nias justru bertalian darah dengan penduduk Taiwan, yang terpaut jarak 3.500 kilometer ke arah timur laut.

“Secara genetika, orang Nias mirip dengan rumpun Austronesia yang menghuni Taiwan pada 4.000-5.000 tahun lalu,” ujar Van Oven dalam paparan ilmiahnya di Auditorium Lembaga Biologi Eijkman, pertengahan April lalu.

Van Oven menemukan keunikan orang Nias ini setelah meneliti selama sepuluh tahun. Ia mengumpulkan 407 sampel darah dari 11 klan atau marga yang tersebar di Nias bagian selatan hingga utara. Darah orang Nias dikirimkan ke Jerman untuk ekstraksi asam deoksiribonukleat (DNA), lalu dibawa ke Rotterdam untuk dianalisis.

Pria 30 tahun ini berfokus pada analisis DNA di dalam kromosom Y yang melacak garis keturunan ayah dan DNA mitokondria untuk melacak garis keturunan ibu. Pelacakan bermuara pada haplogroup, pengelompokan manusia ke dalam klan atau marga purba berdasarkan marka genetik dengan pola unik yang disebut single-nucleotide polymorphism (SNP).

SNP merupakan perubahan kecil dalam DNA yang terjadi secara alami dari waktu ke waktu. Munculnya SNP pada satu generasi akan menjadi penanda garis keturunan unik yang diwariskan ke generasi selanjutnya. Inilah yang ditangkap oleh Van Oven untuk memetakan asal-usul suku Nias. “Manusia dari klan purba yang sama akan berbagi pola SNP yang sama,” katanya.

DNA Ono Niha–sebutan setempat untuk orang Nias–miskin variasi. Hanya dua marka genetik kromosom Y yang ditemukan, yaitu O-M119 dan O-M110. Kedua penanda ini hanya ditemukan pada suku bangsa asli Taiwan yang memulai penyebaran ras Austronesia yang kini mengisi wilayah dari Madagaskar, Asia Tenggara, Papua, hingga Easter Island.

Untuk membandingkannya, Van Oven mengintip darah Karo dan Batak serta menemukan marka DNA yang lebih variatif. Anehnya lagi, kedua etnis yang bertetangga wilayahnya dengan Pulau Nias ini tak memiliki dua marka genetik Nias.

Perbandingan menggunakan 1.500 sampel dari 38 populasi dari Asia Timur, Asia Tenggara, Melanesia, Polinesia, dan Australia mengkonfirmasi keseragaman DNA Ono Niha. “Genetik orang Nias tampak paling mirip dengan populasi dari Taiwan dan Filipina,” ujar dia.

Kesimpulan ini didukung pakar genetika Profesor Herawati Sudoyo. Lewat proyek penelitian Pan-Asian SNP Initiative, Deputi Lembaga Biologi Molekuler Eijkman ini memetakan DNA suku bangsa di Indonesia dan menemukan Indonesia tak hanya terdiri atas dua rumpun besar–Melayu di barat dan Papua di timur–tapi juga terdapat rumpun ketiga.

“Nias membentuk satu cluster dengan orang Mentawai dan Taiwan,” kata Herawati. Orang Simeulue dan Enggano, penghuni deretan pulau paling barat di Kepulauan Mentawai kemungkinan juga tergolong cluster ini.

Menurut Herawati, isolasi geografis menyebabkan keseragaman materi genetik orang Nias. Kultur perkawinan yang “eksklusif” turut memperparah kondisi ini. “Mereka kawin dengan sesama orang Nias sehingga materi genetik tidak menyebar,” ujarnya. Suku bangsa di daerah lain di Indonesia menunjukkan tren materi genetik yang lebih beragam. Kondisi ini menandakan terjadinya efek penyempitan genetik (bottleneck event) dalam sejarah orang Nias.

Penyempitan genetik ternyata juga memicu perbedaan yang sangat kuat di antara 11 klan orang Nias. “Orang di Nias utara dan selatan sangat berbeda,” kata Van Oven.

Klan Gözö, Hia, Ho, Laoya, Daeli, Zebua, Hulu, dan Zalukhu di tengah dan utara hanya memiliki marka genetik O-119. Sedangkan di selatan, tiga klan bangsawan, Sarumaha, Fau, dan Si’ulu, sama-sama mewarisi marka genetik O-110 yang dominan pada kromosom Y mereka.

Van Oven mengatakan, sistem perkawinan orang Nias, yang mengambil istri dari luar klan, turut mempengaruhi isolasi genetik ini. Sistem yang dikenal dengan patrilineal clan and exogamus marriage ini mengharuskan seorang pria dari satu klan menikahi perempuan dari klan yang berbeda. Perempuan yang dinikahi itu kemudian harus pindah ke daerah tempat tinggal pria.

Keunikan DNA orang Nias ini tak dapat dilepaskan dari aliran gen ke Nusantara. Van Oven menduga orang Nias mewarisi gen mereka dari orang Taiwan yang bermigrasi ke Indonesia lewat Filipina menuju Kalimantan dan Sulawesi–teori penyebaran Formosa, yang diambil dari nama pulau Formosa di Selat Taiwan.

Gelombang migrasi manusia modern ini sebenarnya dimulai dari Afrika. Gelombang ini sampai di Taiwan 6.000 tahun lalu. Proses aliran gen hingga mencapai Nias 1.000-2.000 tahun kemudian. Rute ini didukung bukti kemiripan DNA suku Nias dengan penduduk Filipina.

Sumber: Mahardika Satria Hadi | Anton William (Koran Tempo)

BBM Naik, Ekonomi 2013 Suram?

blog spbu

Kalau tidak ada kejadian luar biasa, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2013 akan disahkan di dalam sidang paripurna DPR 17 Juni mendatang. Selain perubahan asumsi-asumsi makro, target penerimaan pajak, dan sebagainya, yang paling penting dari pengesahan APBN-P kali ini adalah implikasinya. Tahu dong, jika APBN-P yang satu ini jadi disahkan, artinya harga BBM bersubsidi akan segera naik. Entah itu besoknya, atau bulan depannya.

Harga BBM subsidi naik, itu sih sudah wajib. Gimana, gak, nilai subsidi BBM tahun ini diperkirakan Rp 200 triliun (persisnya Rp 199,85 triliun). Jumlah itu sekitar 11,5 persen dari belanja negara 2013 yang sebesar Rp 1.726 triliun. Buayangkan..tahun 2005 subsidi BBM masih  Rp 95,6 triliun. Memang sih, ketika itu anggaran belanja negara hanya Rp 509,6 triliun, jadi persentase subsidi 2005 sebesar 18,8 persen dari belanja negara. Tapi, tetap saja, Rp 200 triliun itu sesuatu banget.

Katakanlah subsidi BBM gak dihapus 100 persen, 30 persen saja, menurut pemerintah penghematannya sekitar Rp 42 triliun. Jangan ditanya, saya juga tidak mengerti kenapa tidak jadi Rp 60 triliun. Mungkin karena besar kenaikan solar-premium tidak sama dan ada kenaikan volume pemakaian seiring dengan pertumbuhan kendaraan bermotor. Terus, dari Rp 42 triliun, dikurangi dana kompensasi BBM Rp 28 triliun, masih ada sisa Rp 14 triliun lagi. Lumayanlah, dari pada nambah utang. Belum lagi penghematan di tahun-tahun mendatang.

Memang sih, ada risikonya dalam jangka pendek. Yang jelas inflasi akan melambung, pertumbuhan ekonomi mengkerut, penjualan otomotif turun, suku bunga kredit naik, daya saing ekspor turun. Loh, kok banyak ya dampak negatifnya. Tapi, itu kan semua jangka pendek, tahun depannya lagi juga stabil, dengan catatan BBM gak naik lagi.

Salahnya pemerintah juga. Infrastruktur tidak dibenahi, akibatnya, kualitas pertumbuhan ekonomi kita menuju stagnan. Tumbuh, tapi lambat, bahkan dalam keadaan ekonomi bullish, pertumbuhan kita biasa saja. Apalagi saat sulit kayak begini. Ditambah lagi kenaikan BBM, menjelang puasa dan Lebaran pula.

Banyak ekonom yang khawatir kenaikan BBM menjelang puasa dan Lebaran akan memukul inflasi lebih dahsyat lagi. Harga-harga akan naik gila-gilaan karena dua faktor: biaya produksi tinggi dan permintaan tinggi. Walhasil, bulan-bulan mendatang hidup akan lebih susah. Maklum, harga kalau sudah naik, sulit turun lagi (deflasi hanya terjadi paling banyak 2 bulan dalam setahun).

Seberapa parahnya dampak dari kenaikan BBM bisa tercermin dari pengalaman kenaikan tahun-tahun sebelumnya:

Tahun      Premium            Inflasi (%)   Mobil (ribu)  Pertumbuhan (%)   Investasi
2005    1.810–>4.500            17,11           533             5,7                         –
2006     –                               6,6              318             5,48                       Turun 32%
2007     –                               6,59            433             6,3                          –
2008    4.500–>6.000            11,06           603             6,2                          –
2009    5.000–>4.500            2,78             483             4,5                         Turun 12,5%
2010     –                               6,96             –                 6,1                         –
2011     –                               3,79             –                 6,5                         –
2012     –                               4,3             1.116            6,23                       –

Kelihatan dari tabel, kenaikan BBM akan langsung memukul inflasi pada tahun yang sama (dibaca: harga-harga barang dan jasa naik), dan menekan penjualan mobil/pertumbuhan ekonomi di tahun berikutnya.  Tahun ini, dalam APBN-P 2013 disepakati asumsi inflasi 7,2 persen, lebih rendah dari prediksi beberapa ekonom yang menyebut inflasi akibat BBM 7,9 persen. Kalau target itu tercapai, berarti inflasi relatif terkendali, meski tetap tinggi.

Persoalannya, inflasi tinggi  membuat investor malas datang. Apalagi infrastruktur kita masih buruk. Dan biasanya, dampaknya baru terasa pada tahun berikutnya. Kenapa begitu? Gak tahu juga, ilmu saya belum nyampe.

Jadi, bener dong ekonomi 2013 suram? Rasanya kok bener ya. Tahun ini kita akan melihat pukulan bertubi-tubi terhadap ekonomi. Bukan cuma akibat kenaikan BBM, tapi juga perlambatan ekonomi dunia, daya saing produk kita yang rendah (membuat ekspor makin lama makin turun), infrastruktur yang memble, produksi minyak makin sedikit. Saya khawatir, satu-satunya jalan yang bisa menyelamatkan ekonomi dari kemerosotan lebih dalam adalah menjaga konsumsi domestik.

Tahun lalu, porsi konsumsi domestik mencapai 55 persen dari PDB. Investasi porsinya 30 persen, sisanya ekspor dan belanja pemerintah. Mungkin, di mata pemerintah, selain untuk menjaga kualitas hidup kelompok masyarakat miskin, fungsi BLSM juga untuk menjaga konsumsi domestik. Cuma saya merasa aneh mengenai BLSM ini,  mau berhemat kok malah mengguyur uang tunai, yang jelas habis tak berbekas. Gak ada hasilnya.

Suram yah…gambarannya. Tapi, jangan khawatir, dari sejarah, setelah kenaikan BBM biasanya ekonomi akan tumbuh lebih kencang (meski harusnya bisa lebih kencang lagi kalau manajemennya beres). We’ll see.

Cooper Test, The Two Days Series

endomondospotlight

Ondemande

Salah satu fitur yang terpasang dalam aplikasi Endomondo adalah Cooper Test. Fitur ini terinspirasi tes kebugaran fisik yang diciptakan oleh Kenneth H. Cooper pada tahun 1968 untuk keperluan militer Amerika Serikat. Menurut Wikipedia, bentuk asli tes ini adalah berlari sejauh-jauhnya dalam waktu 12 menit.

Tes ini ditujukan untuk mengukur beban fisik yang dapat ditanggung seseorang. Karena itu, kita disarankan untuk berlari dalam kecepatan yang stabil, ketimbang lari sprint, berhenti, lalu lari lagi. Hasilnya diukur berdasarkan jarak yang ditempuh pelari dibandingkan dengan umur dan jenis kelamin.

Hasil Cooper Test juga dapat dipakai untuk mengukur tingkat VO2 Max (kapasitas maksimum oksigen yang dapat digunakan dan dihantarkan oleh tubuh selama latihan dengan intensitas yang terus meningkat). Satuannya adalah liter oksigen per menit (L/min), atau mililiter oksigen per kilogram berat badan per menit (mL/kg/min).

Syarat untuk mengukur VO2 Max adalah tes harus dilakukan dalam kondisi  pasokan oksigen ke otot jantung berlangsung maksimal. Kegiatan fisik yang  memenuhi kriteria ini antara lain adalah lari, bersepeda, atau mendayung.  Lamanya tes juga harus menjamin terjadinya kerja jantung maksimal. Umumnya berlangsung 6- 12 menit.

cooper test2

Tabel Cooper Test

Cooper Test terakhir kali saya lakukan sekitar enam bulan lalu. Ketika itu hasilnya tidak begitu bagus. Hanya menempuh 2.060 meter dalam 12 menit. Kalau dikonversikan ke tabel Cooper Test, dengan kelompok usia saya, itu hanya masuk kolom average  alias rata-rata. Setingkat di atas  bad  dan setingkat di bawah good.

Supaya naik kelas ke kolom good–yang berarti kondisi fisiknya juga dianggap bagus,  saya pun berlatih keras. Keras maksudnya berupaya keras melawan rasa malas. Setelah merasa cukup, hari ini saya mencoba kembali menguji kondisi fisik terbaru berdasarkan temuan Pak Cooper (apa beliau juga penemu Lee Cooper?) ini. Rencananya, Cooper Test akan berlangsung dua hari berturut-turut, hari ini dan besok. Mumpung perai. Dan, hasilnya adalah….:

Hari #1
Hasil: 2.080 meter.
Hah! Mengecewakan. Meski Bung Endo bilang ada improvemnet 26 meter dari catatan waktu sebelumnya, hasil ini di luar perkiraan. Saya berpikir minimal bisa menembus 2.100 meter. Kok bisa begini? Saya mencoba menganalisis, mungkin kesalahannya terletak pada pemilihan rute. Dulu, saya berupaya memilih rute yang paling banyak jalur datarnya. Maklum, jalan kampus UI yang berkontur sulit untuk menemukan rute 2 kilometer yang rata. Ada saja naik-turunnya.  Nah, tadi, rasanya salah memilih jalur yang penuh gelombang. Akibatnya, tenaga habis di jalur menanjak. Berhubung saya bukan ‘raja tanjakan’, habislah itu nafas. Untuk besok, saya akan mencoba rute yang lain. Mudah-mudahan hasilnya lebih baik.
kontur

Hari #2
Hasil: 2.100 meter.
Yes! Ada peningkatan, meski cuma seupil. Soal pemilihan rute tidak banyak berpengaruh tampaknya. Kalau mau rute yang 100 persen datar memang harus di running track, tidak bisa di road track.  Mau tidak mau, saya harus mengucapkan selamat kepada diri saya sendiri. Berhasil masuk ke kolom average dalam Cooper Test bulan ini. Sampai jumpa bulan depan.
cooper test3

cooper test4