Batak Angkola, Bukan Mandailing

Tampak depan Museum Batak, Balige.

Tampak depan Museum Batak, Balige.

Kemarin ada berita, tiket Lebaran sudah habis terjual. Tidak terasa, sudah mau Lebaran lagi. Jadi teringat, Lebaran tahun lalu, Agustus 2012, kami sekeluarga pulang ke Medan. Beberapa hari di Medan, perjalanan dilanjutkan menuju “kampung sebenarnya” bernama Dusun Aeksyah, di Pahae Jae, Tapanuli Selatan yang berjarak sekitar 8 jam perjalanan darat dari Medan,atau sekitar 20 kilometer sebelum Kota Sipirok dari arah Medan.

Dalam perjalanan menuju Aeksyah, kami mampir ke Museum Batak yang menyatu dengan kompleks TB Silalahi Center di Jalan Pagar Batu, Desa Silalahi Pagar Batu-Balige, Kabupaten Toba Samosir. Jarak dari Medan sekitar 5 jam perjalanan atau 250 kilometer. Hari sudah menjelang sore waktu itu. Cuaca hujan dan berkabut.

Ruang pamer Museum Batak, Balige.

Ruang pamer Museum Batak, Balige.

Diresmikan  17 April 2008 oleh  mantan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara T.B. Silalahi, kompleks museum ini dikelola oleh organisasi non-profit yang bertujuan  memelihara, mengembangkan, serta meneliti kebudayaan Batak.  Komplek T.B. Silalahi Center terdiri dari beberapa bangunan utama, di antaranya adalah Museum Batak, gedung konvensi,  museum pribadi T.B. Silalahi, Rumah Bolon (rumah adat Batak yang berukuran besar), serta Huta Batak.

Sesuai namanya, huta yang berarti kampung dalam bahasa  Batak, Huta Batak merupakan miniatur perkampungan Batak. Di dalamnya terdapat beberapa rumah adat tradisional suku Batak yang sudah berusia ratusan tahun  yang dilengkapi pula dengan  Patung Sigale-gale. Patung Sigale-gale ini berupa patung kayu yang bisa digerakkan seperti menari oleh tangan manusia.

Nah, soal Museum Batak, museum megah ini dibangun di atas tanah seluas kurang lebih 5 hektare dengan luas bangunan sekitar 3.300 meter persegi. Museum ini terdiri dari 4 lantai. Lantai 1 merupakan ruang pamer terbuka dan fasilitas penunjang seperti laboratorium dan ruang dokumentasi. Lantai dua diisi oleh tempat penerimaan tamu dan ruang pamer. Sedangkan lantai tiga adalah ruang pamer dalam ruangan dan ruang audio-visual. Terakhir, lantai empat adalah restoran.

Secara umum, Museum Batak berisi koleksi artefak, peralatan upacara, senjata tradisional, dan kain ulos dari enam subetnik Batak yakni Batak Toba, Simalungun, Karo, Mandailing, Angkola, dan Pakpak.

Ruang pamer Museum Batak, Balige.

Ruang pamer Museum Batak, Balige.

Oya, di bagian taman depan terdapat miniatur Danau Toba dengan ukuran 10X12 meter dan sebuah patung Si Raja Batak yang terbuat dari perunggu setinggi 7 meter. Di bagian depan juga terdapat diorama berupa relief perunggu yang menggambarkan 6 puak Batak.

Patung Si Raja Batak, Museum Batak, Balige.

Patung Si Raja Batak, Museum Batak, Balige.

Lepas dari kemegahan museum yang seolah-olah muncul ‘in the middle of nowhere’ itu,
satu yang paling saya ingat dalam kunjungan singkat itu adalah ternyata marga Ritonga yang mashyur itu, berada dalam sub-etnik Batak Angkola, bukan Batak Mandailing seperti selama ini dikira. Ha! Salah kaprah.

Menurut museum Pak Jenderal ini, subetnik Batak Angkola adalah orang-orang yang sekarang bermukim di Kabupaten Tapanuli Selatan, Kota Padang Sidempuan, Padang Lawas Utara, dan Padang Lawas. Marga-marga yang khas di Angkola adalah Siregar, Harahap, dan Hasibuan. Sistem interaksi sosialnya menganut filosofi dalihan na tolu (tungku yang tiga/bersusun) yang terdiri dari Mora, Kahanggi, dan Anakboru.

Filosofi dalihan na tolu ini penting dalam sistem sosial masyarakat Batak dan upacara ada (horja adat). Pengertian Mora adalah pihak yang memberi boru (perempuan) atau istri. Dalam setiap acara adat, mora mempunyai derajat “paling tinggi”. Posisinya di samping raja-raja dan pemangku adat, Kahanggi adalah saudara semarga.  Sedangkan anak boru adalah pihak  yang menerima boru. Dalam acara adat, anak boru ini posisinya “paling rendah” yang  bisa disuruh-suruh. Tapi, penjelasan ini adalah penyederhanaan saja, filosofinya aslinya sih jauh lebih dalam. Kita bahas lain waktu, ya.

Sedangkan orang Mandailing, sekarang dikenal sebagai orang-orang yang berasal dari Kabupaten Mandailing Natal. Namun, sebagian memang ada yang bermigrasi ke Tapanuli Selatan, Padang Sidempuan, dan Labuhan Batu. Sedangkan sistem interaksi sosialnya sama, menganut filosofi dalihan na tolu yang terdiri dari Mora, Kahanggi, dan Anakboru. Sebenarnya filosofi dalihan na tolu ini sama untuk seluruh subetnik Batak, hanya berbeda istilah saja.

Melihat persebaran penduduk ini,Tapanuli Selatan, khususnya Sipirok condong ke Batak Angkola. Perbedaan yang paling kentara antara Mandailing vs Angkola ini adalah pada pakaian adatnya. Pakaian adat Mandailing didominasi warna merah, dengan ornamen yang ramai. Sedangkan pakaian adat Angkola lebih sederhana dan pengantin prianya didominasi warna hitam. Berarti, waktu menikah dulu berarti salah kostum dong? Apa harus diulang? Hiyaaa…

Pakaian pengantin Batak Mandailing, Museum Batak, Balige.

Pakaian pengantin Batak Mandailing, Museum Batak, Balige.

Pakaian pengantin Batak Angkola, Museum Batak, Balige.

Pakaian pengantin Batak Angkola, Museum Batak, Balige.

Hari sudah menjelang sore, hujan mulai reda, kabut mulai terangkat. Setelah puas memandang-mandang hamparan Danau Toba dan berfoto-foto, kami pun bergegas meninggalkan museum, dengan niat, akan kembali lagi suatu waktu. Horas, Angkola!

Lihat juga:
Belajar dari Perseteruan Mandailing-Batak
Bagaimana Identitas “Batak” Terbentuk?

21 thoughts on “Batak Angkola, Bukan Mandailing

  1. bah bah, bang di madina ima mandailing godang panyabungan tonga tonga dohot mandailing julu sekitar kota nopan, di angkola ima mandailing jae bang. sarupa do sude. di madina hape adong do pakaian hitam adong muse narara. ulang menilai hanya sian museum bang. inda mungkin attong di sub etnik mandailing dibaen 2 jenis warna pakaian sekaligus songoni muse na di sub etnik angkola. sebenarna tapsel dohot madina sarupa sada di julu sada di jae. pakaian na pe sarupa. molo adong najanggal di madina mungkin ima attong naidokkon batak dale batak lilu mgkin inda asli mandailing tp halak naro ato leleng diranto tarlobi bahatma nari halak ranto terpengaruh melayu

    • Katanya juga begitu, sama. Tapi, entah kenapa antropolog menempatkan Mandailing/Angkola menjadi sub-etnik yang berbeda. Dugaan saya, dulunya berbeda, lama-kelamaan menjadi mirip.

  2. aku boru regar, orang tua ku berasal dari paluta, gunung tua tepatnya. tapi aku lahir dan besar di pekanbaru – medan. aku pernah mendengar batak angkola, dan selama ini yang ku tahu kami batak mandailing. tapi setiap pesta adat/saudara ku menikah, selalu pakai baju adat angkola seperti gambar dia atas.

  3. Orang angkola bukanlah orang batak , justru orang batak berasal dari angkola, anda cukup melihat letak geokrafisnya saja, nenek moyang kita pelaut didaerah tobasa jauh dari pesisir, terbentuknya istilah marga karena adat pendahulu kita yg disebut DALIHAN NATOLU,untuk membedakan orang yg bisa kita nikahi, mencegah perkawinan satu keturunan

  4. Sebenarnya Mandailing dengan angkola itu sam. sebutan aja yang beda kayak batak toba dengan batak silindung. sebenarnya sama saja.

  5. anggo menurutku jaman na jolo marbeda… asi ni amunu ??
    ligima sian rumah adat angkola rap mandailing marbeda corak bope na mirip2 saotik.
    baru sian marga dope hita ligi ma marga na tobang na.kan marga na tobangna siang batak toba & menyebar ke bagian tapanulia an. ima makana di baen guarna BATAK
    dengan berjalannya waktu antara angkola dan mandailing marsada harana mardonokan daerahna

    ima anggo menurutku.anggo adong hata na salah mangido maaf mada.

  6. Batak ya batak, Angkola ya Angkola, Mandailing ya Mandailing,
    Batak itu tema kolektif untuk Angkola, Karo, Mandailing, Pakpak, Simalungun dan Toba. Tak bisa disangkal Angkola itu identik dengan Mandailing, karena letak geografis Angkola dekat dengan Mandailing dan Toba sedikit banyak budaya Angkola di pengaruhi oleh Budaya Mandailing dan Toba.

  7. Jangan disamakan Angkola dan Mandailing, seolah-olah Angkola tu tidak ada, kalo kata kasarnya mana pernah orang Mandailing itu mengganggap Angkola tu bagian dari Mandailing, mgkin karna banyak perkawinan antara Angkola – Mandailing makanya disamakan, dari segi cerita adat dan cerita raja-raja di Angkola tidak sama dengan Raja di Mandailing, di Tanah Angkola saja sangat miris tidak ada situs budaya untuk sukunya sendiri, saya masih ingat di pelajaran SD di tentang adat dan istiadat budaya Tapsel, tidak pernah disebutkan disitu kita Mandailing, mungkin sampai hari ini mata pelajaran tentang adat dan budaya di Tapsel sudah dihapuskan, dari bahasa jga sudah jelas berbeda dengan Mandailing, bukan untuk membeda2kan memang beda, dari pakaian adat juga sudah berbeda, saya juga pernah liat baju tradisional angkola di tampilkan di IPB yang ditampilkan oleh IKAPADA, dari perbedaan alat musik juga Angkola mempunyai beberapa alat musik yaitu “Nungneng” yg berfungsi seperti Gendang yg terbuat dari bambu jauh lebih duluan dari Gendang. Dan baru2 ini kami dari komunitas Explore Tabagsel menampilkannya di Stasiun TV nasional, mnrt saya jangan malu bersuku Angkola kita punya sejarah juga, karna banyak yg merantau dan kurang peduli terhadap budaya yasudah jd Mandailing saja mungkin seperti itu pemikiran mereka! Salam damai, Horas Angkola, Horas Mandailing, Horas Batak! Kita berbeda tapi tetap Indonesia!!!!

  8. Ritonga berasal dri angkola bukan dari toba atau mandiling…keturunan ritonga sudah menyebar kemana2..
    Tetap bangga jadi orang angkola bukan orang mandailing,toba dll
    Horas angkola….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s