Wajar, Kalau SBY Ragu Menaikkan Harga BBM

Banyak orang geram melihat maju-mundurnya kebijakan pengendalian konsumsi dan subsidi bahan bakar minyak bersubsidi. Hampir semua jari menuding Presiden SBY tak tegas bersikap. Padahal, alokasi subsidi BBM sudah mencapai tingkat siaga I. Nilai subsidi yang dibuang untuk menggerakkan bangsa Indonesia satu titik ke titik lain tiap tahun makin melambung. Tahun 2012, realisasi subsidi BBM mencapai Rp 211,9 triliun atau sekitar 14 persen dari belanja negara sepanjang tahun itu. Tahun ini, tentu jumlahnya akan semakin tinggi seiring dengan pertambahan kendaraan bermotor dan penduduk.

Kita sepakat, nilai subsidi yang besar itu tentu lebih bermanfaat jika dipakai untuk membangun infrastruktur, pendidikan, atau kesehatan, ketimbang membiayai BBM untuk kelompok menengah-atas. Cuma, menarik  juga kalau kita mencoba mengintip dari perspektif lain,  kenapa sih SBY  berkeras menjaga harga BBM pada posisi saat ini. Presiden yang terpilih dengan suara  60,8 persen ini malah balik melempar bola panas ke DPR. Berlindung di balik APBN Perubahan 2013, dia mengatakan harga BBM bersubsidi akan dinaikkan jika konsep  bantuan langsung tunai sudah dimatangkan dalam APBN Perubahan.

Sebenarnya apa yang menghalangi SBY untuk menaikkan harga BBM sekadar Rp 1.000-1.500 per liter? Barangkali, jawabannya adalah Inflasi. SBY khawatir inflasi akan melompat ke langit di saat yang tidak tepat. Bukankah sekarang saat yang tepat.  Karena inflasi tahunan sampai April lalu cuma 5,57 persen? Apalagi Bank Indonesia juga mendukung kebijakan harga BBM saat ini dengan pertimbangan inflasi rendah. Tapi, sayangnya, sebagian ekonom menebak, inflasi akan menjebol angka 7,9 persen jika harga BBM jadi dinaikkan.

Gelembung inflasi

Gelembung inflasi

Lantas, apa bahaya inflasi bagi ekonomi kita? Bagi masyarakat menengah-bawah? Kelompok masyarakat nyaris miskin? Inflasi yang secara sederhana berarti naiknya harga barang dan jasa di satu wilayah, mempunyai efek berantai bagi pertumbuhan ekonomi bangsa.

Inflasi, bagi semua negara terlebih Indonesia, harus dijaga pada batas nyaman supaya pertumbuhan ekonomi terjaga. Jika inflasi tinggi, yang dalam konteks Indonesia di atas 5 persen, risikonya tingkat konsumsi rumah tangga dan investasi akan melambat. Kalau itu terjadi, berarti malapetaka bagi pertumbuhan ekonomi.  Sebab, kedua faktor itu masih menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi kita.

Berdasarkan data, sepanjang 2011-2012, konsumsi rumah tangga masih menempati porsi di atas 55 persen sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi. Sedangkan investasi duduk di posisi kedua dengan porsi pendorong sekitar 30 persen. Selebihnya adalah belanja pemerintah dan ekspor barang/jasa.

Apa jadinya jika faktor 55 persen itu turun? Dampaknya pasti sangat besar terhadap pertumbuhan ekonomi. Apalagi, belanja pemerintah cenderung terlambat dan mengumpul di kuartal terakhir  dan tidak efisien. Diperkirakan masih ada puluhan triliun anggaran kementerian yang dibintangi oleh Kementerian Keuangan karena proses penganggaran yang tidak tepat administrasi. Naiknya harga barang juga dikhawatirkan membuat kepercayaan konsumen yang masih dalam pemulihan kembali goyah.  Pengaruhnya terhadap investasi juga sama. Naiknya harga barang dan jasa akan menjadi alasan bagi buruh untuk kembali menuntut kenaikan upah dalam jumlah besar.

Ketakutan SBY pasti semakin bertambah setelah kemarin, BPS melaporkan pertumbuhan ekonomi selama kuartal I 2013 cuma 6,02 persen. Angka tersebut jauh di bawah pertumbuhan pada periode yang sama 2012 sebesar 6,29 persen. Perlambatan pertumbuhan antara lain disebabkan oleh penurunan realisasi pembentukan modal tetap bruto (investasi) yang turun 5,9 persen. Sebaliknya, pengeluaran untuk konsumsi rumah tangga kembali menjadi penyelamat pertumbuhan karena naik 5,7 persen. Melihat angka ini, akankah SBY berani menaikkan harga BBM bersubsidi? Rasanya tidak dalam waktu dekat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s