Menjajal Bawah Laut Kepulauan Seribu

Plang nama Pulau Sebaru Besar, Kepulauan Seribu

Plang nama Pulau Sebaru Besar, Kepulauan Seribu

Tiga kali berlatih di kolam renang Senayan, tawaran yang tak dapat ditolak mendadak datang. “Kamu mau ikut ke Pulau Sebaru hari Sabtu-Minggu (27-28 April)?”, Pak Bowo, pelatih diving saya bertanya. “Berapa biayanya?”. “Sekian, sudah termasuk boat, makan, penginapan.” Oh, masih terjangkau, pikir saya.  Seketika itu juga saya hendak menyatakan, oke, tapi…ada satu masalah. Bagaimana dengan wetsuit, BCD (bouyancy compensator device), regulator, bahkan fin dan masker saja belum punya? “Ah, gampang, nanti saya pinjemin semua.”

Singkat cerita, jadilah saya berangkat ke Sebaru yang masuk gugusan Kepulauan Seribu itu. Kami–27 orang anggota rombongan termasuk murid Kingdom Scuba  ditambah ‘turis’ dari Jakarta, Korea Selatan dan Rusia,  berangkat dari dermaga TB 16 di Perumahan Pantai Mutiara, Pluit, pukul 7.30. Mundur setengah jam  dari rencana. Perjalanan ditempuh dalam waktu 1,5 jam. Diukur pakai GPS, kecepatan rata-rata boat yang kami tumpangi sekitar 50 kilometer per jam. Berarti  jarak Pluit-Sebaru sekitar 75 kilometer.

Tiba di Sebaru pukul 9.00, rombongan dibagi. Rombongan ‘turis’ masuk ke kamar-kamar. Rombongan murid–termasuk saya, tidur di bangsal.  Sebagian tanah di Sebaru sudah dimiliki perorangan. Vila yang kami tempati lumayan besar, meski sayang tidak terawat. Mungkin, karena jarang wisatawan yang berkunjung ke  sana.

Selesai sarapan di kantin yang persis menghadap ke laut, sekitar pukul 10.00 dive pertama dimulai. Karena sebagian besar adalah pemula, tempatnya di tepi dermaga dulu. Seutas tali dan bola pelampung diturunkan ke laut sebagai pegangan untuk membantu descent dan equalizing. Setelah semua peralatan terpasang–berat juga menggendong tabung oksigen plus tetek bengek lainnya, satu-per satu kami masuk dengan teknik giant step. Gampang, kok, tinggal
melangkah ke dalam air sambil tangan menjaga masker tak terlepas.

Benar kata orang, dive di laut dan kolam jauh berbeda sensasinya. Terutama, tentu saja, sensasi air laut yang nyelonong masuk ke mulut yang bikin mual.  Kalau di kolam tak ada masalah dengan ombak, di laut, harus pintar-pintar ambil posisi kalau tak mau memanen air laut ke dalam perut.

Ditemani dua dive master, kami berenang melawan arus laut. Namanya juga di sekitar dermaga, pemandangan karangnya tak bisa dibilang istimewa. Untunglah  masih ada ikan berwarna-warni cerah yang melintas di sana-sini. Setelah beberapa saat, ketika tekanan tabung berkurang dari 200 menjadi 100 bar, rombongan  yang berada 10 meter di bawah laut itu pun kembali ke titik keberangkatan, kali ini dengan mengendarai arus. Tentu lebih mudah dan cepat. Tak berapa  kemudian tekanan tabung telah berkurang menjadi 70 bar, itu artinya kami sudah harus bersiap naik ke permukaan.

Supaya paru-paru tidak mengembang mendadak akibat berkurangnya tekanan air saat naik ke permukaan, seorang penyelam diwajibkan melakukan safety stop.  Artinya kurang-lebih, berhenti di kedalaman 5 meter selama beberapa menit, tanpa melakukan aktivitas apapun. Selain untuk menyesuaikan tekanan paru-paru, safety stop juga bermanfaat untuk membuang kelebihan nitrogen di dalam tubuh.

Kelar dive pertama, kami diberi waktu istirahat sejam, sebelum dive berikutnya. Waktu sejam itu disebut surface time. Dive kedua dan ketiga hari itu dilakukan di tengah laut, dari atas perahu. Berbeda dengan dive dari dermaga, pemasangan peralatan di atas perahu lebih repot. Ayunan perahu dan beratnya peralatan yang harus digendong sambil duduk cukup merepotkan. Teknik entry-nya pun berbeda. Dari atas perahu yang dipakai adalah teknik back roll (berguling dengan punggung menghadap air).

Menyiapkan perlengkapan

Menyiapkan perlengkapan

Siap terjun

Siap terjun

Dive kedua dan ketiga relatif lancar. Apalagi, pemandangan bawah laut perairan Pulau Rengit yang tak jauh dari Sebaru, di kedalaman sekitar 12-15 meter cukup menawan. Sebagian teman ada yang mengaku menemukan Kerapu atau penyu. Saya sih, cukup senang berburu ikan-ikan kecil dan menikmati barisan karang yang beraneka macam warna. Secara keseluruhan, dive kedua dan ketiga lancar. Tak lagi panik. Malah, sempat membantu buddy (pasangan menyelam) yang tabungnya terlepas dari BCD.

Sunset di Pulau Rengit, Kepulauan Seribu

Sunset di Pulau Rengit, Kepulauan Seribu

Sunrise di Pulau Sebaru, Kepulauan Seribu

Sunrise di Pulau Sebaru, Kepulauan Seribu

‘Kecelakaan’ terjadi pada dive keempat, esok paginya. Masih di sekitar Sebaru, tapi kali ini di sisi kanan, awalnya dive berjalan lancar. Selain sempat disengat makhluk laut yang bikin kulit perih dan gatal-gatal–ini akibatnya kalau tidak pakai wetsuit, kali ini terjadi masalah equalizing. Saat descent, sampai kedalaman 5 meter equalizing gagal total, mungkin gara-gara pilek malamnya. Akhirnya saya memutuskan naik untuk mencoba lagi dari awal. Sebaliknya, rombongan terus bergerak turun. Beberapa lama di atas, barulah equalizing berhasil. Tapi, celakanya, begitu turun, tak satu manusia lagi yang tampak di bawah sana. Air yang keruh memperparah jarak pandang. Wah, tersesat nih. Ke kanan-apa ke kiri? Rasanya tadi diperintah ke kiri, oke coba ke kiri…tapi hasilnya sama saja.

Ah, sudahlah, akhirnya solo diving, bermain di kedalaman 5 meter.  Kali ini, benar-benar tidak salah pilih lokasi. Karangnya bisa dibilang top. Mirip dengan foto-foto yang beredar di Internet. Tapi, masalahnya, menyelam sendiri sangat dilarang. Sepuluh menit di bawah, saya memutuskan untuk naik, dan meminta kapal yang berada sekitar 100 meter dari lokasi untuk menjemput. Tidak berapa lama di atas kapal, barulah rombongan penyelam muncul satu per satu. Dan sesi penyelaman terakhir pun selesai.

Beres-beres, pukul 13.00 kami sudah harus kembali ke Jakarta. Soalnya, makin sore, ombak makin tinggi. Benar saja, saat kami pulang ombak sudah mulai tinggi, sekitar 1 meter. Boat yang sewaktu berangkat bisa melaju 50 kilometer per jam, sekarang cuma 45 kilometer per jam. Penumpang di dalam boat jangan ditanya, melambung-lambung dihantam ombak. Begitulah,   diving 2 hari berhasil dilalui dengan selamat. Sekarang saatnya kembali lagi ke kolam, memperhalus beberapa teknik yang masih jelek.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s