Mandiri Run 2013: At The Finish Line

Start Mandiri Run 2013 (Sumber: mandirirun.com)

Start Mandiri Run 2013 (Sumber: mandirirun.com)

Alhamdulillah, Mandiri Run 2013 kemarin berjalan lancar. Kerja panitia lancar, saya  sebagai peserta pun berlari dengan lancar. Perlombaan yang menyatu dalam acara besar Mandiri Karnaval Nusantara ini dimulai tepat waktu. Pukul 6.30, Ketua PB PASI Bob Hasan melepas 653 peserta kategori 10K. 10 menit kemudian,  Dirut Bank Mandiri Budi  Gunadi melepas 1.047 peserta 5K.

Rute untuk 10K adalah start dari Senayan City, berputar di Plaza Senayan, belok kiri  menuju Sudirman, terus melewati kolong Jembatan Semanggi, putar balik di Dukuh Atas,  dan kembali ke garis finish di samping STC. Start di titik yang sama, rute 5K adalah  menuju Sudirman, naik ke Jembatan Semanggi, dan finish di STC.

Awalnya saya ragu apakah bisa lari sesuai target waktu latihan. Soalnya, malam sebelumnya harus piket di kantor. Tapi, syukurlah, seperti biasa, kaki cuma terasa  berat di kilometer 1, setelah itu, semua berjalan normal…alias larinya makin lambat…hahaha.

Hebatnya, beda dengan sesi latihan yang pake acara berhenti ambil nafas, pas lomba, full selama 5 kilometer tidak pake berhenti. Lari terus. Meski pelan-pelan, yang  penting tidak ada istirahat. (Iya dong, takut ada kamera dijepret lagi jalan, kan, sungguh tidak cool). Bahkan, tanjakan di Jembatan Semanggi pun diterabas dengan lari. Air minum? Kagak diambil. Bukan apa-apa, takutnya kalau sudah berhenti tidak sanggup
lari lagi.

Membanggakan melihat ternyata banyak manusia Jakarta dan sekitarnya yang doyan lari.  Mulai dari anak-anak sampai aki-aki. Laki, perempuan,  semuanya… yang penting lari. Gayanya macem-macem. Ada yang sudah disediakan kaos Mandiri, masih  aja pake kaos bawaannya sendiri. Mungkin larinya bisa jadi lebih  kenceng. Ada yang  pake topi, padahal matahari belum juga keliatan. Malah, ada yang bawa ransel sambil
lari. Gak repot tuh?

Ya, sudahlah, namanya juga gaya masing-masing. Yang penting happy. Soal lari,  lain-lain pula tekniknya. Entah belajar di mana, ada peserta yang doyannya lari  kencang, terus jalan. Sprint lagi, jalan lagi. Terakhir, sprint…terus berhenti. Kecapean.

Begitulah, setelah berjuang keras, sampailah saya di garis finish dengan kondisi  masih bernyawa. Berapa catatan waktunya? Itu dia masalahnya. Pengukuran GPS/Endomondo berbeda signifikan dengan pengukuran panitia. Dari start hingga finish menurut Mbak Endo cuma berjarak 4,8 kilometer. Perbedaan itu mulai saya
sadari waktu di kilometer 1. Penanda kilometer dari panitia menunjukkan kilometer 1,  tapi Mbak Endo belum juga teriak, “One kilometer in…minute. Lap time…”

Runner couple

Pasangan pelari.

The finish line.

The finish line.

Tambahan lagi, di garis finish, si Samsung yang imut ini mendadak hang dan harus di-restart. Jadinya, catatan waktu yang valid cuma sampai di kilometer 4:

Km  Time
1. 6:24
2. 6:23
3. 6:46
4. 6:46

Kalau dirata-ratain, sekitar  6 menit 35 detik per kilometer. Kilometer kelima mungkin lebih cepat, karena larinya digeber beberapa ratus meter menjelang finish. Panitia sebenarnya  punya layar timer. Tapi, sayangnya, layar timer  ditaruh di sisi dalam, bukan di sisi  luar garis finish. Sehingga peserta tidak bisa melihat langsung catatan waktunya.

Satu lagi, panitia sebenarnya punya chip timing yang diikatkan di sepatu. Gunanya untuk menghitung waktu start dan finish.  Cuma, sampai hari ini belum diumumkan  hasil pencatatan waktunya. Mungkin nanti.
Oke, satu race selesai. Sekarang waktunya bersiap untuk race berikutnya. Kali ini  tidak 5K lagi, tapi 10K. Mudah-mudahan tercapai.

***
Yeaaah…akhirnya panitia Mandiri Run melansir catatan waktu para atlet. 31 menit 32 detik utk 5 km, di posisi 110… tidak terlalu buruk.
cat wak man run

Dengan Bekal Ini, Anda pun Bisa Berinvestasi Saham

Ilustrasi pialang saham di Bursa Efek Indonesia.

Ilustrasi pialang saham di Bursa Efek Indonesia.

Masuk ke pasar modal tanpa ilmu seperti masuk hutan tanpa tahu arah. Saya jamin 99,99 persen Anda akan tersesat , kehabisan bekal , dan ‘mati’ ditelan belantara pasar modal. Sebaliknya, dengan ilmu yang cukup,  Anda akan memasuki dunia saham seperti menumpang kapal besar.   Lihat kapal besar, kalau berlayar dia tenang, ombak besar dia cuek, penumpang di atasnya bisa tidur nyenyak, tahu-tahu sudah sampai di tempat tujuan. Gak pake nyasar.

Begitu pula sebaiknya perilaku seorang investor. Tenang, penuh perhitungan,  tidak panik menghadapi gejolak pasar, dan cepat mengambil keputusan.  Tentu saja, ketenangan tidak bisa datang tiba-tiba, butuh jam terbang yang memadai. Untungnya, bagi investor  pemula,   sudah banyak tips yang ditulis oleh para investor andal. Saya peras dan pilhkan beberapa tips yang aplikatif untuk Anda, para pendatang baru:

1. LIHAT SEKELILING
Perhatikan saham emiten yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sebelum makan atau mandi, misalnya, lihat pada kemasan, siapa produsennya? Biasanya akan kita temui nama-nama beken seperti Unilever (UNVR), Indofood  Sukses Makmur (INDF), atau Indofood CBP (ICBP).

Selesai mandi pakai baju, merek apa yang Anda punya? DKNY, Zara, Marks & Spencer, atau Pull and Bear? Maka pastikan Anda mengingat distributornya: Mitra Adiperkasa (MAPI). Atau Anda pernah berbelanja  pakaian di tempat yang lebih ‘guyub’, Anda tentu ingat jaringan toko Ramayana Lestari (RALS).

Selesai berpakaian, Anda sarapan, kalau tidak Indomie-nya ICBP, pilihan lain biasanya  roti Sari Roti yang dibikin oleh Nippon Indosari (ROTI).  Mau pergi ke kantor atau ke tempat usaha, kalau naik mobil, mayoritas tunggangan yang beredar  adalah Toyota atau Daihatsu yang  di Indonesia berinduk ke Astra International (ASII) atau Suzuki yang berinduk ke Indomobil  Sukses (IMAS).

Masuk jalan tol, pilihannya cuma dua, kalau tidak asetnya  Jasa Marga (JSMR), ya Citra Marga (CMNP).  Ah, pokoknya, banyak deh perusahaan yang bagus di sekitar kita.

2.PERTUMBUHAN LABA  KONSISTEN
Setelah melihat-lihat sekeliling, saringan paling utama adalah mencermati pertumbuhan laba emiten buruan Anda . Cari emiten  yang memiliki pertumbuhan laba  tahunan yang konsisten selama 3-5 tahun terakhir.  Berapa persen pertumbuhan yang ideal? Ada yang bilang 20-30 persen. Menurut saya, yang penting tumbuh. Apalagi kalau dia masih bisa tumbuh di tengah krisis, itu pasti perusahaan top.

Selain laba tahunan, lihat juga laba kuartalan. Contohnya, kalau Anda membeli di kuartal III, lihat laba kuartal I dan II. Jika turun terus dalam 2 kuartal, meski laba tahun lalu naik, waspada. Cek faktor internal atau eksternal  yang mempengaruhi industri emiten tersebut.

3.PRICE TO EARNING RATIO
Misalnya, laba per saham Semen Indonesia (SMGR) tahun 2012  sebesar Rp 817, sedangkan harga SMGR pada perdagangan Jumat lalu Rp 18.200 per lembar, maka PER SMGR = 18.200/817 = 22,2X. Bisa dibaca sebagai: investor bersedia membeli selembar saham SMGR pada harga 22,2 kali labanya.

Apa manfaat PER buat investor? PER berguna untuk menentukan apakah suatu saham masuk kategori mahal atau murah. Berapa PER yang disebut mahal atau murah? Tidak ada ukuran bakunya. Yang bisa dilakukan adalah membandingkan PER di antara satu kelompok industri tertentu.  Ambil contoh,  SMGR dengan PER 22,2X  lebih mahal daripada Holcim Indonesia (SMCB) dengan PER 20,9X dan Indocement (INTP) yang memiliki PER 18,16X.

Kalau begitu apakah saham dengan PER tinggi berarti harus dijauhi? Jawabannya belum tentu. Karena PER tinggi bisa menjadi tanda bahwa banyak investor yang memburu saham tersebut, sehingga harganya terus melambung. Sehingga, Anda perlu mendalami lagi kenapa sebuah saham dihargai lebih tinggi atau lebih rendah ketimbang saham lain. Kata orang, saham ‘mahal’ tapi memiliki prospek cerah, lebih baik ketimbang saham ‘murah’ tapi memiliki prospek suram.

4.MAU JADI INVESTOR ATAU TRADER?
Pada dasarnya, semua orang yang menanamkan uangnya pasar modal disebut investor. Hanya saja, ada orang yang tergolong investor jangka panjang (sering disebut sebagai ‘investor’ saja), ada pula yang memiliki jalan sebagai investor jangka pendek atau trader .

Nah, Sebelum menceburkan diri ke pasar modal, tentukan dulu tempat berpijak Anda. Apakah mau menjadi investor atau trader. Seorang investor menginvestasikan uangnya dalam jangka panjang pada emiten-emiten yang memiliki  sejarah pertumbuhan laba  bagus dan prospek cerah.

Biasanya, pertimbangan membeli atau menjual saham bagi seorang investor adalah laporan keuangan. Jika laporan keuangan membaik, maka itu saatnya membeli atau terus memegang saham. Sebaliknya, saat laporan keuangan memburuk, itu adalah sinyal untuk melepas saham.

Sedangkan trader, mendasarkan kegiatan jual-belinya dengan analisis teknikal dalam jangka pendek. Ketika indikator-indikator yang dipakai sudah memunculkan sinyal jual, maka trader akan melepas sahamnya, meskipun kinerja perusahaan sebenarnya masih bagus. Ia baru akan membeli lagi ketika sinyal beli sudah muncul.

Sebagian trader berani mengambil risiko dengan memperdagangkan saham-saham berkinerja buruk—satu hal yang dihindari investor,  dengan mengacu pada indikator teknikal.  Tapi, tidak salah juga kalau  Anda memilih menjadi keduanya. Artinya, sebagian dana Anda  tempatkan dalam jangka panjang, sebagian lagi untuk jangka pendek alias diperdagangkan.

5.PELAJARI TEKNIK ANALISIS FUNDAMENTAL DAN TEKNIKAL
Apakah memilih  menjadi investor  atau trader, analisis fundamental dan teknikal harus Anda kuasai. Analisis fundamental mencakup pemahaman terhadap laporan keuangan perusahaan dan rasio-rasionya, kondisi ekonomi mikro dan makro, serta ekonomi global.

Sedangkan analisis teknikal mencakup pemahaman terhadap indikator-indikator teknis seperti MACD, Stochastic, Aroon, atau Average Directional. Indikator ini jumlahnya puluhan. Jangan khawatir, karena biasanya sekuritas sudah menyediakan software dari semua indikator  tersebut. Anda tinggal memahami cara membacanya saja.

Pusing? Tidak perlu. Sebab, Anda tidak harus serta-merta menguasai semua analisis itu sebelum masuk ke pasar modal. Pelajari  semuanya sambil jalan. Kalau menunggu Anda menjadi seorang ahli dulu baru berinvestasi, mau sampai kapan…

5 Manfaat Olahraga di Luar Ruangan

Ilustrasi olahraga di luar ruangan.

Ilustrasi olahraga di luar ruangan.

Ada tulisan menarik di Tempo.co. Bukan bermaksud membenturkan faham outdoor dan indoor, tapi cuma untuk memberi persepsi yang berbeda. Karena, mau outdoor, kek, indoor, kek…yang penting olahraga. Ya, kan…  Seperti kata kaum pesepeda, yang penting bukan (harga) sepedanya, tapi sepedaannya.

——————————————————————————————————–

5 Manfaat Olahraga di Luar Ruangan

Kesibukan membuat masyarakat modern cenderung melupakan olahraga. Kalau pun ada yang sempat berolahraga, sebagian orang memilih  berolahraga di dalam ruangan dengan alasan menghemat waktu.  Padahal, olahraga di luar ruangan memiliki segudang manfaat, seperti dikutip dari Women’s Health berikut ini:

1. Anda Akan Berolahraga Lebih Lama 
Kenapa bisa begitu? Saat Anda memutuskan meninggalkan majalah, televisi, dan laptop Anda demi berolahraga di luar, Anda akan terkejut begitu menyadari betapa waktu berjalan begitu cepat.  Olahraga di luar ruangan membuat Anda tidak menyadari begitu cepat waktu berjalan karena Anda begitu menikmatinya.

“Mengubah rutinitas, melihat wajah-wajah baru, dan menikmati pemandangan alam akan membantu Anda memerangi kebosanan,” begitu petuah Robert Gotlin, Direktur Pusat Rehabilitasi Ortopedi dan Olahraga di New York.

2. Semakin Banyak Kalori yang Terbakar
Stacy Berman,  pemilik dan pelatih di Pusat Pelatihan Stacy’s Bootcamp mengungkapkan, “Berbagai medan di luar ruangan mungkin lebih tahu kebutuhan tubuh Anda dengan memberikan tantangan berupa tempat bergerak yang lebih kompleks dan bervariasi dibanding peralatan fitness di pusat kebugaran.”  Tantangan yang disediakan alam  dapat membakar kalori sekitar 5-7 persen lebih banyak dibandingkan dengan berlari di atas treadmill.

3. Menghindari Kuman 
Sebuah studi mengungkapkan bahwa pusat kebugaran merupakan tempat berkembang biak yang baik bagi kuman dan bakteri. MRSA (Methicillin-Resistant Staphylococcus Aureus)  adalah salah satu bakteri yang paling berbahaya yang dapat ditemukan di pusat kebugaran.

Bakteri ini dapat menyebabkan demam, ruam, luka, dan nyeri dada. Anda memang dapat menghindari jasad renik ini dengan selalu mencuci tangan sehabis berlatih, mengganti kaus kaki setiap hari, menyeka peralatan sebelum dan sesudah menggunakannya, serta selalu menggunakan sandal saat ke kamar mandi. Meski  demikian, bergerak di luar ruangan tetap jauh lebih menyehatkan.

4. Anda Bebas ke mana Saja
Berolahraga di luar ruangan tidak terbatas di tempat tertentu. Anda bebas mau ke mana saja, selama yang Anda mau, sejauh yang Anda inginkan. Tidak ada keterikatan waktu dan tidak ada kelas-kelas khusus. Berolahraga di luar ruangan menjadi milik Anda sepenuhnya.

5. Hemat dan Bahagia
Di samping manfaat-manfaat di atas, olahraga di luar ruangan juga memberikan manfaat lain. Anda menjadi lebih hemat tentunya, karena tidak seperti berolahraga di pusat kebugaran yang berbayar, olahraga di luar ruangan gratis sepenuhnya. Dengan begitu, Anda menjadi lebih sehat, bugar, dapat berpikir jernih sehingga Anda jauh lebih bahagia.

 

Menakar Geliat Saham GMTD

logo GMTD

Beberapa hari ini ada satu saham yang sepertinya sedang cari-cari perhatian, sehingga  terpaksa menjadi pusat perhatian. Sampai ada yang nekat mempromosikannya di forum para investor. Gak tanggung-tanggung, target price Rp 13.000, dari harga asal Rp 660. Wow, banget! Kalau melihat pergerakan harganya dalam hitungan hari ini saja sih,  memang bisa tercapai target tak masuk akal itu, tapi, sebelum ikutan kejebur, kita lihat dulu dong jeroannya, jangan asal comot hehe… Aturan ini berlaku untuk semua  emiten, gak cuma kelompok Lippo ini saja lho.

Kita perhatikan, lepas dari ‘kerangkeng’ suspensi BEI, harga saham PT Gowa Makassar  Tourism Development (GMTD) memang kayak orang kesurupan. Kembali diperdagangkan pada  24 April 2013 setelah disuspensi sejak 18 Februari 2011, harga saham perusahaan  pengembang ini melonjak dari awalnya Rp 660 menjadi Rp 7.050 per lembar atau naik 968  %, cuy… GMTD seolah ‘tak kapok’, karena suspensi yang dilakukan BEI 2 tahun silam  itu pun dipicu oleh kenaikan tak wajar saham kelompok Lippo itu sebesar 220 % dalam  tempo sepekan.

Tapi, sayangnya, peningkatan harga saham GMTD tidak diikuti dengan fundamental pasar  yang baik. Pada perdagangan Jumat pekan lalu misalnya, lonjakan harga GMTD dari Rp  5.900 ke Rp 7.050 harga disertai dengan volume penjualan 500 lembar alias 1 lot.  Hari-hari perdagangan sebelumnya tidak jauh beda, paling tinggi volume transaksi GMTD  hanya 5.000 lembar atau 10 lot. Bahkan, pernah 0 lembar.

Historical Price GMTD. Dicuplik dari Yahoo Finance.

Historical Price GMTD. Dicuplik dari Yahoo Finance.

Tidak masuk akal kalau ada saham yang sudah memberi gain begitu tinggi dalam waktu  singkat, tidak ada yang profit taking. Pertanda apa ini? Kemungkinan jawabannya cuma  satu, pemegang sahamnya itu-itu saja. Menurut analis, jumlah pemegang saham publiknya cuma 20 pihak. Lah, gimana orang mau jual-beli, barangnya gak  ada di pasar? Mestinya, kalau sudah begini–sudah disuspensi 2 tahun pun tak jera, BEI harus memaksa emiten melakukan stock split atau aksi korporasi lainnya.  Okelah, itu urusan BEI. Kita ikut saja. Saya sih lebih tertarik untuk menguliti siapa  GMTD ini. Siapa tahu ada juga yang kepincut 🙂

**

Perusahaan-perusahaan terkait GMTD.

Perusahaan-perusahaan terkait GMTD.

Profil :
Didirikan pada tanggal 14 Mei 1991. Bergerak di bidang investasi dan pengembangan kota mandiri Tanjung Bunga,  di Makassar, Sulawesi Selatan, yang pembangunan fisiknya telah dimulai sejak tahun 1997.
Pendapatan Perseroan diperoleh terutama dari penjualan rumah dan kavling hunian, penjualan lahan siap bangun untuk komersial, dan pendapatan dari fasilitas komersial dan rekreasi yang dibangun.  Bank land 1.000 hektare.

Pemegang saham:
PT Makassar Permata Sulawesi : 32,5 %
Kabupaten Gowa : 6,5 %
Kota Makassar : 6,5 %
Propinsi Sulawesi Selatan : 13 %
Yayasan Partisipasi Pembangunan Sulsel : 6,5 %
Masyarakat di bawah 5 % : 35 %

Jumlah saham disetor :     101.538.000 lembar
Kinerja Q1/2013:
Laba  Rp 25,58 miliar, naik 35 % dari Q1/2012  sebesar Rp 19,01 miliar.
Laba per saham Rp 251.
Pendapatan Rp 70,24 miliar, naik 15,1 % dari Q1/2012 sebesar Rp 61,01 miliar.
Aset bertambah Rp 31,16 miliar menjadi Rp 931,8 miliar dari posisi 31 Desember 2012.

Batak Angkola, Bukan Mandailing

Tampak depan Museum Batak, Balige.

Tampak depan Museum Batak, Balige.

Kemarin ada berita, tiket Lebaran sudah habis terjual. Tidak terasa, sudah mau Lebaran lagi. Jadi teringat, Lebaran tahun lalu, Agustus 2012, kami sekeluarga pulang ke Medan. Beberapa hari di Medan, perjalanan dilanjutkan menuju “kampung sebenarnya” bernama Dusun Aeksyah, di Pahae Jae, Tapanuli Selatan yang berjarak sekitar 8 jam perjalanan darat dari Medan,atau sekitar 20 kilometer sebelum Kota Sipirok dari arah Medan.

Dalam perjalanan menuju Aeksyah, kami mampir ke Museum Batak yang menyatu dengan kompleks TB Silalahi Center di Jalan Pagar Batu, Desa Silalahi Pagar Batu-Balige, Kabupaten Toba Samosir. Jarak dari Medan sekitar 5 jam perjalanan atau 250 kilometer. Hari sudah menjelang sore waktu itu. Cuaca hujan dan berkabut.

Ruang pamer Museum Batak, Balige.

Ruang pamer Museum Batak, Balige.

Diresmikan  17 April 2008 oleh  mantan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara T.B. Silalahi, kompleks museum ini dikelola oleh organisasi non-profit yang bertujuan  memelihara, mengembangkan, serta meneliti kebudayaan Batak.  Komplek T.B. Silalahi Center terdiri dari beberapa bangunan utama, di antaranya adalah Museum Batak, gedung konvensi,  museum pribadi T.B. Silalahi, Rumah Bolon (rumah adat Batak yang berukuran besar), serta Huta Batak.

Sesuai namanya, huta yang berarti kampung dalam bahasa  Batak, Huta Batak merupakan miniatur perkampungan Batak. Di dalamnya terdapat beberapa rumah adat tradisional suku Batak yang sudah berusia ratusan tahun  yang dilengkapi pula dengan  Patung Sigale-gale. Patung Sigale-gale ini berupa patung kayu yang bisa digerakkan seperti menari oleh tangan manusia.

Nah, soal Museum Batak, museum megah ini dibangun di atas tanah seluas kurang lebih 5 hektare dengan luas bangunan sekitar 3.300 meter persegi. Museum ini terdiri dari 4 lantai. Lantai 1 merupakan ruang pamer terbuka dan fasilitas penunjang seperti laboratorium dan ruang dokumentasi. Lantai dua diisi oleh tempat penerimaan tamu dan ruang pamer. Sedangkan lantai tiga adalah ruang pamer dalam ruangan dan ruang audio-visual. Terakhir, lantai empat adalah restoran.

Secara umum, Museum Batak berisi koleksi artefak, peralatan upacara, senjata tradisional, dan kain ulos dari enam subetnik Batak yakni Batak Toba, Simalungun, Karo, Mandailing, Angkola, dan Pakpak.

Ruang pamer Museum Batak, Balige.

Ruang pamer Museum Batak, Balige.

Oya, di bagian taman depan terdapat miniatur Danau Toba dengan ukuran 10X12 meter dan sebuah patung Si Raja Batak yang terbuat dari perunggu setinggi 7 meter. Di bagian depan juga terdapat diorama berupa relief perunggu yang menggambarkan 6 puak Batak.

Patung Si Raja Batak, Museum Batak, Balige.

Patung Si Raja Batak, Museum Batak, Balige.

Lepas dari kemegahan museum yang seolah-olah muncul ‘in the middle of nowhere’ itu,
satu yang paling saya ingat dalam kunjungan singkat itu adalah ternyata marga Ritonga yang mashyur itu, berada dalam sub-etnik Batak Angkola, bukan Batak Mandailing seperti selama ini dikira. Ha! Salah kaprah.

Menurut museum Pak Jenderal ini, subetnik Batak Angkola adalah orang-orang yang sekarang bermukim di Kabupaten Tapanuli Selatan, Kota Padang Sidempuan, Padang Lawas Utara, dan Padang Lawas. Marga-marga yang khas di Angkola adalah Siregar, Harahap, dan Hasibuan. Sistem interaksi sosialnya menganut filosofi dalihan na tolu (tungku yang tiga/bersusun) yang terdiri dari Mora, Kahanggi, dan Anakboru.

Filosofi dalihan na tolu ini penting dalam sistem sosial masyarakat Batak dan upacara ada (horja adat). Pengertian Mora adalah pihak yang memberi boru (perempuan) atau istri. Dalam setiap acara adat, mora mempunyai derajat “paling tinggi”. Posisinya di samping raja-raja dan pemangku adat, Kahanggi adalah saudara semarga.  Sedangkan anak boru adalah pihak  yang menerima boru. Dalam acara adat, anak boru ini posisinya “paling rendah” yang  bisa disuruh-suruh. Tapi, penjelasan ini adalah penyederhanaan saja, filosofinya aslinya sih jauh lebih dalam. Kita bahas lain waktu, ya.

Sedangkan orang Mandailing, sekarang dikenal sebagai orang-orang yang berasal dari Kabupaten Mandailing Natal. Namun, sebagian memang ada yang bermigrasi ke Tapanuli Selatan, Padang Sidempuan, dan Labuhan Batu. Sedangkan sistem interaksi sosialnya sama, menganut filosofi dalihan na tolu yang terdiri dari Mora, Kahanggi, dan Anakboru. Sebenarnya filosofi dalihan na tolu ini sama untuk seluruh subetnik Batak, hanya berbeda istilah saja.

Melihat persebaran penduduk ini,Tapanuli Selatan, khususnya Sipirok condong ke Batak Angkola. Perbedaan yang paling kentara antara Mandailing vs Angkola ini adalah pada pakaian adatnya. Pakaian adat Mandailing didominasi warna merah, dengan ornamen yang ramai. Sedangkan pakaian adat Angkola lebih sederhana dan pengantin prianya didominasi warna hitam. Berarti, waktu menikah dulu berarti salah kostum dong? Apa harus diulang? Hiyaaa…

Pakaian pengantin Batak Mandailing, Museum Batak, Balige.

Pakaian pengantin Batak Mandailing, Museum Batak, Balige.

Pakaian pengantin Batak Angkola, Museum Batak, Balige.

Pakaian pengantin Batak Angkola, Museum Batak, Balige.

Hari sudah menjelang sore, hujan mulai reda, kabut mulai terangkat. Setelah puas memandang-mandang hamparan Danau Toba dan berfoto-foto, kami pun bergegas meninggalkan museum, dengan niat, akan kembali lagi suatu waktu. Horas, Angkola!

Lihat juga:
Belajar dari Perseteruan Mandailing-Batak
Bagaimana Identitas “Batak” Terbentuk?

Wajar, Kalau SBY Ragu Menaikkan Harga BBM

Banyak orang geram melihat maju-mundurnya kebijakan pengendalian konsumsi dan subsidi bahan bakar minyak bersubsidi. Hampir semua jari menuding Presiden SBY tak tegas bersikap. Padahal, alokasi subsidi BBM sudah mencapai tingkat siaga I. Nilai subsidi yang dibuang untuk menggerakkan bangsa Indonesia satu titik ke titik lain tiap tahun makin melambung. Tahun 2012, realisasi subsidi BBM mencapai Rp 211,9 triliun atau sekitar 14 persen dari belanja negara sepanjang tahun itu. Tahun ini, tentu jumlahnya akan semakin tinggi seiring dengan pertambahan kendaraan bermotor dan penduduk.

Kita sepakat, nilai subsidi yang besar itu tentu lebih bermanfaat jika dipakai untuk membangun infrastruktur, pendidikan, atau kesehatan, ketimbang membiayai BBM untuk kelompok menengah-atas. Cuma, menarik  juga kalau kita mencoba mengintip dari perspektif lain,  kenapa sih SBY  berkeras menjaga harga BBM pada posisi saat ini. Presiden yang terpilih dengan suara  60,8 persen ini malah balik melempar bola panas ke DPR. Berlindung di balik APBN Perubahan 2013, dia mengatakan harga BBM bersubsidi akan dinaikkan jika konsep  bantuan langsung tunai sudah dimatangkan dalam APBN Perubahan.

Sebenarnya apa yang menghalangi SBY untuk menaikkan harga BBM sekadar Rp 1.000-1.500 per liter? Barangkali, jawabannya adalah Inflasi. SBY khawatir inflasi akan melompat ke langit di saat yang tidak tepat. Bukankah sekarang saat yang tepat.  Karena inflasi tahunan sampai April lalu cuma 5,57 persen? Apalagi Bank Indonesia juga mendukung kebijakan harga BBM saat ini dengan pertimbangan inflasi rendah. Tapi, sayangnya, sebagian ekonom menebak, inflasi akan menjebol angka 7,9 persen jika harga BBM jadi dinaikkan.

Gelembung inflasi

Gelembung inflasi

Lantas, apa bahaya inflasi bagi ekonomi kita? Bagi masyarakat menengah-bawah? Kelompok masyarakat nyaris miskin? Inflasi yang secara sederhana berarti naiknya harga barang dan jasa di satu wilayah, mempunyai efek berantai bagi pertumbuhan ekonomi bangsa.

Inflasi, bagi semua negara terlebih Indonesia, harus dijaga pada batas nyaman supaya pertumbuhan ekonomi terjaga. Jika inflasi tinggi, yang dalam konteks Indonesia di atas 5 persen, risikonya tingkat konsumsi rumah tangga dan investasi akan melambat. Kalau itu terjadi, berarti malapetaka bagi pertumbuhan ekonomi.  Sebab, kedua faktor itu masih menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi kita.

Berdasarkan data, sepanjang 2011-2012, konsumsi rumah tangga masih menempati porsi di atas 55 persen sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi. Sedangkan investasi duduk di posisi kedua dengan porsi pendorong sekitar 30 persen. Selebihnya adalah belanja pemerintah dan ekspor barang/jasa.

Apa jadinya jika faktor 55 persen itu turun? Dampaknya pasti sangat besar terhadap pertumbuhan ekonomi. Apalagi, belanja pemerintah cenderung terlambat dan mengumpul di kuartal terakhir  dan tidak efisien. Diperkirakan masih ada puluhan triliun anggaran kementerian yang dibintangi oleh Kementerian Keuangan karena proses penganggaran yang tidak tepat administrasi. Naiknya harga barang juga dikhawatirkan membuat kepercayaan konsumen yang masih dalam pemulihan kembali goyah.  Pengaruhnya terhadap investasi juga sama. Naiknya harga barang dan jasa akan menjadi alasan bagi buruh untuk kembali menuntut kenaikan upah dalam jumlah besar.

Ketakutan SBY pasti semakin bertambah setelah kemarin, BPS melaporkan pertumbuhan ekonomi selama kuartal I 2013 cuma 6,02 persen. Angka tersebut jauh di bawah pertumbuhan pada periode yang sama 2012 sebesar 6,29 persen. Perlambatan pertumbuhan antara lain disebabkan oleh penurunan realisasi pembentukan modal tetap bruto (investasi) yang turun 5,9 persen. Sebaliknya, pengeluaran untuk konsumsi rumah tangga kembali menjadi penyelamat pertumbuhan karena naik 5,7 persen. Melihat angka ini, akankah SBY berani menaikkan harga BBM bersubsidi? Rasanya tidak dalam waktu dekat.