Eksotisme Beef Rossini

Pria ramah itu berdiri di samping meja kami. Florian Lamenot, French Chef Resident Restoran Orient-8, Hotel Mulia, Jakarta mempresentasikan menu beef lava stone yang sedang kami santap. Tercermin dari namanya, hidangan tersebut terdiri dari potongan tipis daging sapi impor asal Amerika Serikat yang dipanaskan di atas batu lava hasil letusan gunung berapi.

Sebelum dipakai untuk memanaskan daging, kata dia, batu lava dipanaskan terlebih dulu pada suhu 200 derajat celcius. Setelah itu, empat iris daging yang sudah dibumbui dimasak di atasnya hingga tingkat kematangan yang diinginkan pelanggan. Setelah matang atau setengah matang, steak siap disajikan bersama lada hitam, garam, dan saos teriyaki.

Menurut Florian, batu lava dipilih  karena mampu memberikan pemanasan yang merata dan juga  menguarkan aroma yang khas pada daging. Lemak yang tertinggal dalam irisan daging akan meleleh seketika saat menempel di batu panas yang dipanaskan dengan minyak zaitun. Lemak ini  menghadirkan sensasi rasa ‘basah’ pada daging yang saya rasakan sendiri.

Terlepas dari rasanya yang memang yahud, sayangnya bukan beef lava stone yang menarik perhatian saya. Saya justru tergoda untuk bertanya, “Apa hidangan favorit di restoran ini?” Berpikir sejenak, warga Prancis itu menjawab, “Beef rossini.”

Dia menjelaskan, beef rossini terbuat dari daging sapi (prime black angus tenderloin), hati bebek atau angsa (foie gras),  jamur black truffle,  ditambah saus. Terdengar tak lazim, berlagak juri kontes memasak atau bahkan inspektur Michellin, saya menantang Florian, “Apakah menu tersebut bisa saya dapatkan sekarang?” Kali ini, tidak berpikir lagi dia tersenyum, mengangguk, dan bergegas ke dapur.

Sementara menunggu, kami menikmati hidangan lain yang disajikan restoran bergaya pan- Asian dan Prancis tersebut. Di atas meja dan  kursinya yang serba putih dan dibuat seakan-akan tua, sudah tersedia beef fondu. Berbeda dengan daging beef lava stone yang dipotong tipis-tipis, daging beef fondu dipotong tebal-tebal berbentuk kubus.

Daging tersebut kemudian kami celupkan ke dalam minyak jagung yang  suhunya harus dijaga pada angka 180 derajat celcius. Untuk memastikan suhunya sesuai standar, restoran menyediakan termometer laser yang bisa ditembakkan ke dalam minyak jagung. Begitu suhunya sesuai, kami mulai mencelupkan daging ke dalam minyak yang menggelegak.

Aturan untuk mencelupkan daging beef fondu  ada lagi. Jika ingin matang sempurna,  celup daging selama tiga menit. Tapi, kalau ingin setengah matang, cukup dua menit. Saya kemudian tahu kenapa dagingnya harus dipotong tebal-tebal. Rupanya, daging yang terlalu tipis akan kering begitu dimasukkan ke dalam minyak jagung.

Setelah daging matang, hidangan bisa disantap dengan empat jenis saus yakni saos bearnaise (mentega, kuning telur, dan white wine vinegar), barbeque, tar-tar, dan mayonaise. Kalau beef lava stone rasanya sempurna, yang ini bisa dibilang luar biasa. Selain karena dagingnya kualitas pilihan, ketebalannya yang di atas beef lava stone membuat daging ini lebih ‘melawan’ di dalam mulut.

Sedang asyik menikmati beef fondu,  bintang utama siang itu: beef rossini pun muncul. Saya perkirakan, waktunya tak sampai 10 menit sejak saya memesan hidangan tadi. Dari bentuknya saja sudah menggoda petualang kuliner. Terdiri dari daging sapi black angus yang ditaburi jamur black truffle, dan di tengahnya terdapat foie gras  yang berwarna kekuningan.

Direktur Komunikasi Hotel Mulia, Romy Herlambang yang menemani kami makan bercerita, black truffle diimpor dari Eropa dan hanya tumbuh di pohon oak atau hazelnut. Itu pun hanya selama selang musim gugur dan musim dingin. “Katanya, jamur ini hanya bisa diendus oleh anjing jenis tertentu,” ujar Romy, Jumat dua pekan lalu.  Konon lagi, harganya mencapai Rp 30 juta per kilogram

Sebagai pemanis, di sisi beef rossini ditaruh mashed potato berbentuk kotak. Disebutkan Florian, dalam format tradisional beef rossini ditata lebih sederhana. Hanya berupa tumpukan daging, hati bebek, dan black truffle. Sekilas mirip tumpukan burger. Tapi, di tangan Florian, beef rossini berubah menjadi modern dengan semua bahan baku tadi menyatu.

Daging sapinya dirancang sedemikian rupa sehingga foie gras terjebak di bagian tengah. Adapun jamur black truffle yang berwarna hitam pekat ditabur di atasnya. Saya segera mengambil pisau dan garpu. Saat memotong dagingnya, saya sudah menduga steak ini dimasak setengah matang. Begitu menyentuh lidah, dugaan itu terkonfirmasi. Rasa daging, jamur, dan hati bebeknya sangat alami.

Tak terbiasa dengan masakan setengah matang ternyata tercermin dari wajah saya, walaupun sama sekali tanpa disengaja. Melihat ekspresi saya, Florian cepat tanggap. Dengan sopan dia meminta kembali hidangan tersebut, untuk dimatangkan di dapur. Serba salah dan merasa berdosa, saya pasrah saja menyaksikan makanan tersebut dibawa kembali ke dapur.

Tidak sampai lima menit, hidangan yang sama kembali ke hadapan saya. Kali ini sudah matang sempurna.  Tapi, ternyata harus diakui, cita rasa beef rossini lebih keluar jika disantap dalam keadaan setengah matang. Sebab, dengan begitu, kita bisa benar-benar membedakan setiap elemen yang tersentuh lidah. Dan cuma ada satu kata untuk beef rossini: eksotis.

EFRI RITONGA (KORAN TEMPO)

NB: foto-fotonya keburu kehapus. Nasib…

Advertisements

Astra Green Run 2016

Daripada blog ini gak ada isinya, gue isi catatan lari Astra Green Run 2016 saja :)) Lumayan untuk dilihat-lihat anak dan cucu nanti. Chip time-nya tercatat 1 jam 34 menit 54 detik untuk jarak 15K, dengan pace 6:19 (6 menit 19 detik per kilometer). Rekor pribadi, josss…!! Dalam sesi latihan paling kencang cuma 1 jam 39 menit. Target  AGR  2016 sih cuma pace 6:35, tapi dapatnya 6:19, Alhamdulillah, ada kemajuan dari pertama berkarir sebagai pelari 4 tahun silam dengan pace 7:30.  Kalau begini terus grafiknya sih, dalam 40 tahun lagi bisa jadi pelari pro…dengan catatan kalau masih hidup :)) Mungkin efek dari latihan beban? Gak ngerti juga.  Pokoknya mah, lari saja. Biar sehat. Joss….!!

astra-green-run-2016

Melawat ke Jantung Legenda Batak

Dalam setiap legenda, kata seorang penulis, betapapun musykilnya, terdapat butir-butir kebenaran. Dan legenda Si Raja Batak berawal dari Gunung Pusuk Buhit dan bermula di Sianjur Mula-mula. Disemangati oleh cerita itu, saya pun meluncur ke kaki Gunung Pusuk Buhit, di Kecamatan Sianjur Mula-mula, Kabupaten Samosir pada Lebaran lalu. Tempat inilah, yang menurut legenda, merupakan tempat mendaratnya Si Raja Batak dari langit.  Menikah dengan perempuan bumi di tempatnya turun, Si Raja Batak  kemudian menjadi leluhur orang Batak sedunia.

Desa yang pertama kali dibangun Si Raja Batak setelah turun ke bumi adalah Sianjur Mula-mula.  Desa ini terletak persis di kaki Pusuk Buhit (1.982 meter di atas permukaan laut). Gunung ini merupakan satu-satunya anak Gunung Toba purba yang tidak ikut meletus pada 17.000 tahun lalu, ketika terjadi letusan dahsyat yang membentuk Danau Toba. Jejak-jejak peninggalan leluhur Batak konon banyak terpendam di sana.

Berangkat dari Medan, ada dua pilihan rute yang bisa ditempuh untuk menuju Sianjur Mula-mula. Rute pertama adalah melalui jalur Kota Parapat.  Awalnya, kita mengendarai mobil ke Parapat sejauh 3-4 jam perjalanan.  Sesampainya di Parapat, kita menumpang kapal feri menuju Desa Tomok,  di Pulau Samosir  sekitar 1 jam perjalanan. 

Dari Tomok, perjalanan dilanjutkan sekitar 1,5 -2 jam lagi ke Sianjur Mula-mula melalui Kota Pangururan, Ibu Kota Kabupaten Samosir. Sehingga total waktunya bisa menempuh 7 jam perjalanan.

Saya tidak memilih rute pertama ini karena pertimbangan waktu tempuh yang sangat panjang, belum lagi kalau ditambah waktu tunggu feri yang bisa mencapai dua jam.  Lagipula Tomok sudah saya kenal sejak masih kecil. Tapi, bagi wisatawan yang belum pernah ke Tomok, saya sarankan melalui rute pertama ini. Selain karena menjual banyak cinderamata, Tomok dan sekitarnya juga menyimpan banyak situs bersejarah seperti makam Raja Sidabutar yang terbuat dari batu-batu berukuran raksasa dan matu kursi Parsidangan Siallagan. Belum lagi dalam perjalanan menuju Pangururan, akan banyak bersisian dengan objek wisata menarik seperti Museum Simanindo dan Hutabolon, pantai Batu Hoda, pantai Parbaba, dan pantai Indah Situngkir.

Adapun saya, menjatuhkan pilihan pada rute kedua, yaitu melewati Kota Brastagi, Kabanjahe, Taman Wisata Iman, Tele, hingga ke Sianjur Mula-mula. Rute ini relatif lebih sepi pemukiman penduduk dan lalu lintas kendaraan. Kami bertolak pagi dari Medan. Namun karena terhadang insiden mesin overheating, lepas Magrib kami baru tiba di Kota Pangururan untuk bermalam. Kalau dari arah Medan, kita terlebih dulu melewati Sianjur Mula-mula, baru mendapati Pangururan. Untuk catatan, meskipun berada dalam satu kabupaten, Kota Pangururan terletak di Pulau Samosir, sementara Sianjur Mula-mula terletak di Pulau Sumatera.

Tersebab tidak ada anggota rombongan yang pernah ke Sianjur Mula-mula atau Pangururan, kami mengandalkan Google Map sebagai pemandu jalan. Piranti pintar itu terbukti akurat. Tapi, catatan dari saya, saat melalui Jalan Sidikalang-Medan, Google Map mengarahkan pengguna untuk melalui jalan pintas yang tidak bisa saya temukan. Kemungkinan terbesar, jalan yang disarankan oleh perusahaan Sergey Brin ini adalah jalan setapak yang tidak bisa dilintasi mobil, sehingga tidak terlihat. Akhirnya, kami meneruskan perjalanan ke arah Taman Wisata Iman, baru kemudian berbelok ke kiri memasuki Jalan Dolok Sanggul-Sidikalang menuju Jalan Tele-Pangururan.

Sempatkan singgah sebentar di daerah Tele. Di sana disediakan menara pandang setinggi tiga lantai. Dari atasnya kita bisa menyaksikan pemandangan cantik kaldera kawah Danau Toba yang terbentuk dari letusan Gunung Toba purba. Angin berembus kencang dan suhu udara dingin di sana. Sebaiknya bawa jaket supaya kegiatan memandang menjadi lebih leluasa.

Pemandangan kaldera Gunung Toba dari atas menara pandang Tele.

Pemandangan kaldera Gunung Toba dari atas menara pandang Tele.

Sampai di titik tujuan yang ditunjukkan Google Map,  hari mulai gelap. Karena tidak menemukan petunjuk arah ke Sianjur Mula-mula ataupun Pusuk Buhit, kami pun menepikan mobil untuk bertanya kepada seorang ibu yang kebetulan melintas. 

“Permisi Bu, mau tanya, jalan ke Sianjur Mula-mula lewat mana ya?” “OO..DI SINI LAH INI KECAMATAN SIANJUR MULA-MULA. ININYA TEMPATNYA, WILAYAHNYA.” 
(Seisi mobil kaget dengan volume suara Si Inang)
“Kalau mau ke Pusuk Buhit di mana jalan masuknya?”
 “PUSUK BUHIT?  ITU GUNUNGNYA (menujuk). BANYAK ORANG MENDAKI KE SANA. ADA AIR UNTUK AWET MUDA DI PUNCAKNYA.”
 Lega lantaran mengetahui berada di tempat yang benar,  dan juga demi kesehatan gendang telinga, kami pun mohon pamit kepada Si Inang. MAULIATE INANG !.

Jembatan penghubung Pulau Sumatera-Pulau Samosir.

Jembatan penghubung Pulau Sumatera-Pulau Samosir.

Karena hari sudah menjelang malam, kami memutuskan meneruskan perjalanan ke Kota Pangururan yang berjarak sekitar 20 kilometer ke depan. Atas rekomendasi seorang teman, kami bermalam di Hotel P di tepi Pantai Situngkir. Hotel ini adalah hotel baru, berkelas melati dengan tarif Rp 350 ribu per malam, tanpa AC, tanpa  restoran, dengan bau saluran air yang menguar hingga ke kamar kami di lantai dua. Hotel yang tidak direkomendasikan untuk disinggahi, namun lantaran sudah terlanjur masuk, tak mungkin pulak kami pergi lagi,  terpaksalah kami menginap di sana.

***

Pagi harinya, setelah membeli kaos yang harganya terjangkau dari penjaja suvenir di dekat hotel dan merenung di tepi Pantai Situngkir yang berpasir putih, kami berangkat menuju Sianjur Mula-mula.  Saya ingatkan lagi, Sianjur Mula-mula terletak di Pulau Sumatera, sedangkan Pangururan adanya di Pulau Samosir. Antara kedua  pulau ini dipisahkan oleh kanal berair dangkal selebar kira-kira 20-30 meter, dan dihubungkan dengan jembatan.

Jarak Pangururan – Sianjur Mula-mula sekitar 20 kilometer. Sepanjang perjalanan, tampak pemandangan yang sebelumnya disembunyikan oleh malam. Deretan rumah tradisional Batak berderet rapi di tepi jalan. Rumah panggung beratap tanduk kerbau  seluruhnya terbuat dari kayu, tanpa pagar, tanpa pembatas antar rumah. Anak-anak bercengkrama  di tangga rumah yang jumlahnya ganjil atau bermain di halaman yang temaram oleh pepohonan.

Pantai Indah Situngkir, Samosir.

Pantai Indah Situngkir, Samosir.

 

Rumah penduduk.

Rumah penduduk.

Jalan menuju Pusuk Buhit sudah cukup lebar dan mulus. Tapi, karena ketika kami mampir ke sana kebetulan berbarengan dengan pesta penduduk setempat yang menutup seluruh badan jalan, jadilah perjalanan kami dialihkan ke jalan desa yang kondisinya semi-offroad. Untunglah kami menumpang mobil MPV. Karena sedan dan sejenisnya pasti akan kesulitan melewati jalan desa ini.

Di tengah perjalanan menuju Pusuk Buhit, terdapat posko untuk pendaftaran pendakian. Pagi itu sudah sekitar pukul 9.30, tapi posko masih tutup. Setelah bertanya kepada orang-orang yang nongkrong di warung kopi, barulah penjaga posko hadir. Kami berbincang-bincang dengan pak penjaga. Beliau menjelaskan dengan singkat dan padat mengenai objek wisata di sekitar Pusuk Buhit. Soal pendakian, dia tidak menyarankan dilakukan saat ini,  karena sudah terlalu siang. Sementara pendakian harus dilakukan dengan berjalan kaki dan butuh waktu sekitar 2-3 jam untuk mencapai puncak gunung. 

Tapi, dia menjelaskan, meski tak sempat mendaki, masih banyak artefak bersejarah di kawasan Sianjur Mula-mula yang bisa dijangkau dengan mobil. Kami sepakat. Toh tujuan hari itu memang bukan pendakian, melainkan hanya sekadar menapakkan kaki di kaki Pusuk Buhit. Daripada bingung tak tentu arah, supaya lebih efisien, kami boyong saja pak penjaga posko sebagai pemandu jalan.

 

Posko pendakian.

Posko pendakian.

Kantor Desa Sianjur Mula-mula.

Kantor Kepala Desa Sianjur Mula-mula.

Naik sedikit ke punggu Pusuk Buhit, terdapat artefak Batu Hobon yang berwujud tumpukan batu berbentuk meja. Batu Hobon ini konon dipakai oleh Si Raja Batak dan keturunannya untuk bermusyawarah. Legenda menyebutkan, di dalam rongga Batu Hobon ini Si Raja Batak menyimpan harta kekayaannya. Cerita lain mengisahkan, batu ini ditumpuk oleh orang-orang terdahulu untuk menutupi lubang magma. Pusuk Buhit memang tergolong gunung api aktif, namun dikategorikan sebagai gunung api kelas C yang tidak mungkin meletus. Konon, tentara Jepang di masa pendudukannya pernah hendak membongkar batu tersebut dengan menembakinya, karena diduga di dalamnya banyak disimpan emas perhiasan.   Tapi ajaib, batu tebal itu bergeming, tak lecet sedikitpun. Dan tak berapa lama berselang, datanglah hujan lebat disertai angin kencang nan dingin, begitu dinginnya sampai-sampai si orang Jepang yang menembak batu tadi tewas kedinginan. Di belakang situs Batu Hobon didirikan patung raksasa cucu Raja Batak bernama Ompui Tuan Sariburaja, anak dari Guru Tetea Bulan.

 

 

 

Situs Batu Hobon.

Situs Batu Hobon.

 

Patung Ompu Saribu Raja.

Patung Ompui Tuan Saribu Raja.

Selesai dari Batu Hobon, naik sedikit lagi ke Desa Sianjur Mula-mula (namanya memang sama dengan nama kecamatannya) kita bisa menyaksikan replika  rumah bolon atau rumah adat Batak yang ditempati Raja Batak dan keluarganya. Mungkin ada yang bertanya, selain rumah, apakah Raja Batak punya istana?  Jawabannya, tidak. Dalam kultur Batak, sebutan raja tidak mengacu kepada seorang penguasa wilayah, melainkan sebagai panggilan kepada orang yang dituakan atau dihormati di kampungnya. Kebiasaan itu masih berlaku sampai sekarang.  Makanya ada guyonan, di Batak rajanya banyak, tapi tidak ada istana. Teringat ketika saya pesta pernikahan dulu, butuh waktu dua jam untuk mendengarkan sambutan dan petuah dari sekian banyak raja kampung.

 

Replika rumah bolon.

 

Replika rumah bolon.

Replika rumah bolon.

Di depan rumah bolon dibangun tiruan gua tempat Raja Batak bertapa. Konon, kata orang-orang, ketika tentara Jepang menyerbu, gua Raja Batak yang asli menjadi tempat perlindungan penduduk satu kampung. Kejadian ini mengejutkan sebab secara kasat mata, gua tersebut hanya mampu menampung tiga orang. “Bagi orang yang memiliki mata batin, bisa kelihatan gua ini luas sekali di dalamnya,” kata pak penjaga. Sayangnya, keberadaan gua bersejarah itu kini tidak diketahui lagi letak persisnya. Kembali dari lokasi replika rumah bolon sempatkan  berhenti sejenak di sebuah pertigaan. Lihat ke bawah untuk menyaksikan hamparan hijau Desa Sagala. Desa ini adalah salah satu desa yang pertama kali dibangun oleh leluhur Batak. Nama Sagala diambil dari nama anak Guru Tatea Bulan. Selain Desa Sagala, desa tua lainnya adalah Desa Limbong, yang terletak di sisi lain Pusuk Buhit.

Desa Sagala.

Desa Sagala.

Tempat wisata lain yang sudah disiapkan pemerintah adalah Rumah Parsaktian Guru Tatea Bulan, anak Si Raja Batak. Rumah ini  seperti museum terbuka dengan patung-patung yang kasar buatannya. Jajaran patung-patung itu menggambarkan semua anak dan cucu Si Raja Batak. Satu patung dengan cerita yang paling menggelitik adalah patung seorang perempuan berkemben putih, berambut panjang, yang dalam posisi seperti hendak terbang. Beliau adalah Si Biding Laut, satu dari enam putri Guru Tatea Bulan. Selain enam putri, Tatea Bulan juga memiliki lima orang putra. Legendanya, Si Biding Laut ini adalah putri yang paling cantik di antara putri Tatea Bulan lainnya (dari sini saja sudah bisa ditebak jalan ceritanya).

Putri-putri Tatea lainnya yang iri dengan kecantikan Biding Laut mengajak berjalan-jalan lalu meninggalkan di sebuah pulau. Pertolongan datang, Biding Laut ditemukan oleh pedagang, dibawa ke Tanah Jawa dan menikah dengan raja di sana. Tapi, kesialan Biding belum usai, dia dituduh berselingkuh, dan dibuang ke tengah laut. Tapi tak tahu bagaimana ceritanya (pikiran mulai gak fokus) dia selamat dan dibawa berlayar menuju Sumatera.  Di tengah perjalanan, kapalnya dihantam ombak dan tenggelam. Namun, entah karena kesaktian atau ketulusan hatinya  (makin gak fokus), Biding tidak mati, melainkan menjelma menjadi makhluk halus penjaga Pantai Selatan. Sahabat-sahabat saya yang baik hatinya…Biding Laut telah menjadi Ratu Pantai Selatan alias Nyi Roro Kidul. Tidak percaya? Baca cerita lengkapnya di Internet, banyak. 

Tak seberapa jauh dari Rumah Parsaktian Guru Tatea Bulan masih ada objek wisata kultural lainnya, yakni Perkampungan Si Raja Batak di Sigulatti. Kampung ini dipercaya sebagai kampung pertama yang didirikan oleh Raja Batak. Namun, karena hari sudah siang, dan kami harus segera berangkat, kampung ini terpaksa dilewatkan.  Masih di Kecamatan Sianjur Mula-mula, juga terdapat air mancur tujuh sumber di Desa Aek Sipitu Dai. Air yang berasal dari tujuh kanal itu dipercaya berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit.

Patung Si Biding Laut.

Patung Si Biding Laut.

 

Rumah Parsaktian Tatea Bulan.

Rumah Parsaktian Guru Tatea Bulan.

Siang kian meninggi, menghindari malam di jalan, kami bergegas meninggalkan lokasi yang menawan ini. Meninggalkan tempat berawalnya bangsa Batak, dengan berbagai legendanya, yang dibuat dengan melebih-lebihkan cerita sebenarnya,  bukan dengan maksud buruk, melainkan untuk mengabadikan kisah-kisah di masa lampau kepada anak-cucu.  Soal mana di antara legenda itu yang benar, tak perlulah disaring dan terlalu dipikirkan, cukup dinikmati sebagai karya budaya para leluhur. 

Sebelum tulisan wisata ini menjadi semakin filosofis dan bikin ngantuk, saya sudahi sajalah. Wassalam.

PS: Dalam perjalanan pergi atau pulang, coba singgah sejenak untuk makan siang di Rumah Makan Yaya Barona, di Kecamatan Tiga Panah, Karo. Ikan nilanya enak.

****

Koruptor Tanpa Penjara

Daya juang bangsa ini dalam pemberantasan korupsi terus diuji. Pekan lalu, Indonesia Corruption Watch mengungkapkan, pada periode Januari-Juni 2016 mayoritas koruptor hanya divonis rata-rata 2 tahun 1 bulan penjara.  ICW pun mengusulkan supaya Mahkamah Agung membuat pedoman bagi pengadilan yang menyidangkan kasus korupsi supaya ada kesamaan sikap menilai kasus-kasus korupsi.

Hukuman yang sudah ringan itu rupanya hendak didiskon lagi oleh  Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan. Dua hari sebelum digeser dari posisinya, dia  mengatakan pemerintah tengah mengkaji kebijakan agar koruptor tak perlu dihukum penjara. Cukup mengembalikan uang yang dicuri ditambah penalti dan dipecat dari jabatannya.

Alasan Luhut absurd:  penjara akan semakin penuh jika koruptor dipenjara. Alasan kedua, penjara ternyata tidak memberikan efek jera bagi koruptor. Pemerintah tidak main-main dengan rencana tersebut. Luhut mengklaim telah membentuk tim pengkaji penerbitan peraturan pemerintah pengganti undang-undang soal ini. Nama-nama besar di bidang hukum ditempatkan sebagai anggota tim.

Rencana tak masuk akal ini tentu saja harus ditolak.  Para koruptor sudah seharusnya merasakan dinginnya lantai penjara akibat kekejian yang dilakukannya. Logika Luhut mengenai minimnya efek jera bisa dipatahkan dengan cara memperberat hukuman. Misalkan melalui perpanjangan masa hukuman atau perampasan aset. Toh instrumennya ada, yakni Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang.

Soal penuhnya penjara juga tidak boleh dijadikan alasan. Sebab, masalah ini adalah masalah menahun yang hanya bisa diselesaikan dengan menambah jumlah penjara beserta sumber daya manusia pengelolanya. Solusi ini tidak hanya menepis kekhawatiran Luhut mengenai penjara akan dibanjiri koruptor, tapi juga memperbaiki kondisi penghuni penjara secara keseluruhan.

Selain akan mengaburkan batasan antara perbuatan pidana dan perdata, penghapusan hukuman penjara bagi koruptor—sekali lagi dengan alasan penjara penuh,  akan membuat Indonesia tampak aneh di mata dunia. Sebab, di negara manapun, pelaku tindak pidana korupsi  pasti dihukum penjara, mengganti kerugian negara, dan membayar denda.

Tanpa hukuman yang keras kepada koruptor, pemerintah dan lembaga peradilan hanya akan memberikan kesan bahwa korupsi adalah kejahatan biasa. Bahkan, jika logika Luhut dipakai, koruptor ibarat penjudi yang sedang sial. Kalau tidak tertangkap uang didapat, kalau tertangkap uang melayang. Tak lebih dari sebuah pertaruhan, tak lagi menakutkan.  Di lain waktu, koruptor yang sama berpotensi mengulangi kejahatan yang sama pula.

Lama-kelamaan korupsi tidak lagi dianggap sebagai kejahatan luar biasa, yang secara tidak langsung membunuh jutaan umat manusia,  melainkan sekadar ‘kenakalan’ karena ringannya hukuman. Kita berharap Wiranto yang kini menjabat Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan lebih bijak ketimbang pendahulunya.

***

Manfaatkan Momentum Investment Grade

Peringkat layak investasi (investment grade)  yang disematkan Fitch Ratings kepada surat utang Indonesia tidak selayaknya menjadi alasan pemerintah berpuas diri dan berleha-leha menunggu pemilik modal menyambangi negeri ini. Masih ada 1.001 pekerjaan rumah yang harus dibereskan pemerintah sebelum investor benar-benar mampir.

Satu di antara sekian banyak tunggakan pekerjaan itu adalah memperbaiki peringkat kemudahan berusaha (ease of doing business) Indonesia yang tahun ini masih bertengger di peringkat ke-109. Posisi itu jauh di bawah negara-negara tetangga seperti Brunei Darussalam di peringkat ke-84, Thailand ke- 49, atau Malaysia ke-18. Dan, jangan coba-coba bandingkan dengan Singapura yang ada di peringkat ke-1.

Poin yang membuat Indonesia kedodoran di mata Bank Dunia sebagai pemberi peringkat, adalah kemudahan memulai bisnis (starting business). Tahun lalu,  peringkat kemudahan berbisnis di negara ini masih ada di peringkat ke-163. Tahun ini, melorot menjadi 173. Poin minus lainnya adalah ketersediaan pasokan listrik.

Pemerintah sudah berupaya mempermudah izin usaha dengan mengeluarkan 12 paket kebijakan ekonomi secara bertahap sejak tahun lalu. Sayangnya,  bagi pengusaha upaya tersebut dianggap tidak cukup. Mereka mengatakan, banyak kebijakan kemudahan perizinan yang hanya garang di atas kertas namun ompong di lapangan.

Jargon kemudahan izin usaha di tingkat pusat seringkali tidak senafas dengan realitas di derah. Sulitnya pembebasan lahan untuk membuka usaha, yang wewenangnya ada di pemerintah kabupaten dan kota, masih menjadi momok. Kendala pembebasan lahan juga menghantui proyek-proyek jalan dan pembangkit listrik.

Pertumbuhan ekonomi kuartal I 2016  yang meleset dari target –hanya 4,92 persen dari target 5,3 persen–juga mesti menjadi peringatan dini. Karena, setelah ditelusuri, lemahnya pertumbuhan ekonomi dipicu oleh rendahnya penyerapan belanja pemerintah. Penyakit lama rupanya kambuh lagi. Sempat dikebut di bulan Januari, penyerapan belanja pemerintah kembali kendor di bulan-bulan berikutnya.

Perilaku pemerintah daerah yang gemar mengendapkan dana pembangunan di perbankan juga belum sembuh.  Hingga akhir April lalu, jumlah uang anggaran daerah yang berumah di bank daerah mencapai Rp 220 triliun. Presiden Joko Widodo pun berang, karena nyaris tak ada belanja modal maupun barang yang dilakukan pemerintah daerah dalam periode tersebut.

Tak akan selesai dengan hanya marah-marah, Presiden dituntut untuk mendorong birokrasi pusat dan daerah bergerak. Kucurkan belanja modal dan barang pemerintah secepatnya. Evaluasi terhadap implementasi berbagai insentif dan kemudahan yang dijanjikan Jokowi dalam paket kebijakan ekonomi juga mesti dilaksanakan.

Dari sisi permintaan, daya beli masyarakat wajib dijaga melalui pengendalian laju inflasi.  Investor mana yang mau masuk kalau hasil barangnya sepi pembeli? Tanpa pembenahan di semua sektor, bukan mustahil Indonesia, yang sebenarnya hanya sedikit di atas garis tidak layak investasi (junk bond), terlempar dari zona invesment grade dalam penilaian berikutnya. Tak ada waktu untuk berpuas diri.    (*)

Tak Boleh Kalah Melawan Psikopat

Belum lagi kasus penembakan acak di Magelang, Jawa Tengah terpecahkan, kasus baru dengan modus  kejahatan acak hinggap ke wilayah tetangganya: Yogyakarta. Di Magelang, dalam kurun waktu 6-20 April lalu,  13 orang menjadi korban penembakan senapan angin. Sebanyak 12 orang di antaranya adalah perempuan.

Para korban mengalami luka sobek, lebam, dan bengkak di bagian pinggang, kaki, dan dada. Dari tempat kejadian perkara polisi menemukan peluru senapan angin yang diduga berasal dari senjata penembak. Ketiadaan saksi mata, foto, atau rekaman CCTV membuat polisi kesulitan mengusut kasus ini. Sejauh ini, polisi hanya bisa menyatakan sudah menemukan titik terang pelaku penembakan.

Berhenti di Magelang, kejahatan dengan pola acak “menulari” Yogyakarta.  Dalam satu hari, pada Senin lalu, tiga warga Kotagede dan Umbul Harjo terluka terkena sabetan benda tajam saat sedang berjalan di luar rumah. Kejadiannya berlangsung sekitar pukul 12.00-13.00. Korbannya semua perempuan. Salah satunya bahkan masih duduk di bangku kelas 6 sekolah dasar.

Dalam kasus penyayatan, sosok pelaku terekam kamera CCTV, walau tidak terlihat jelas. Warga juga sempat mengejar pelaku saat beraksi di Kotagede. Dari berbagai kesaksian disimpulkan bahwa profil pelaku adalah laki-laki berusia 40 tahun, mengendarai sepeda motor, berjenggot, dan  mengenakan jaket lusuh.

Kejahatan dengan pola acak memang terkenal sebagai kasus yang paling “menantang” untuk dipecahkan. Motifnya bukan dendam atau ekonomi melainkan sekadar mencari kepuasan dari menyakiti orang lain. Pelakunya juga tidak mengenal dan memilih korbannya berdasarkan kesempatan belaka. Repotnya, psikopat ini bisa siapa saja. Mulai dari preman sangar hingga ilmuwan kutu buku.

Walau berat, penegak hukum tentu tidak boleh menyerah begitu saja. Penembakan di Magelang yang berlangsung dua pekan berturut-turut tanpa antisipasi dari kepolisian harus dipertanyakan. Alasan kepolisian bahwa korban terlambat melapor sehingga penanganan kasus sulit dilakukan tidak boleh dilontarkan lagi.

Polisi harus introspeksi. Apa yang membuat warga terlambat melapor setelah kejadian? Jangan-jangan warga malas berurusan dengan polisi karena khawatir justru akan merepotkan dirinya sendiri.  Sebaliknya, korban harus sadar melaporkan kejahatan yang menimpa dirinya adalah bagian dari kewajiban. Sebab, kejahatan dengan modus yang sama bisa menimpa orang lain bila korbannya justru abai.

Pemerintah daerah bisa ikut ambil peran mencegah kejahatan. Memperbanyak penempatan kamera pengawas di tempat-tempat umum akan membuat calon pelaku kejahatan berpikir ulang melaksanakan niatnya. Memperbanyak lampu penerangan di setiap sudut kota juga berguna memberikan rasa aman bagi warga. Sesuai slogan Turn Back Crime yang bermakna bersama-sama melawan kejahatan, penegak hukum, pemerintah, dan masyarakat harus bahu-membahu menuntaskan kasus yang menyebalkan ini.  (*)

Jangan Merugi Dua Kali di Hambalang

Kasus korupsi yang menodai pembangunan Pusat Pendidikan, Pelatihan, dan Sekolah Olahraga Nasional Hambalang tidak sepatutnya membuat proyek tersebut tersia-sia. Duit senilai Rp 471 miliar yang terlanjur dikucurkan negara akan sangat mubazir kalau dibiarkan berubah menjadi setumpuk bangunan tak terurus.

Karena itu, rencana Presiden Joko Widodo melanjutkan kembali pembangunan kompleks olahraga Hambalang yang mangkrak sejak 2012 adalah langkah tepat. Sebagai aset negara, proyek Hambalang perlu diselamatkan. Apalagi, pemimpin Komisi Pemberantasan Korupsi  pun sudah merestui dilanjutkannya pekerjaan.

Tapi,  prinsip kehati-hatian tetap harus dijadikan saringan utama sebelum memutuskan meneruskan atau menutup proyek konstruksi senilai Rp 1,175 triliun tersebut. Ada banyak alasan. Pertama,  sejarah korupsi yang melilit proyek ini membuat Kejaksaan Agung perlu mensinergikan kajian hukum dengan KPK.

Supaya  Hambalang jilid II benar-benar terjamin, Kejaksaan Agung dapat melakukan audit hukum atas legalitas proyek. Sebab ternyata, dari sisi perizinan saja proyek Hambalang masih menyimpan banyak cacat.  Misalkan, proyek garapan PT Adhi Karya Tbk dan PT Wijaya Karya Tbk itu belum mempunyai izin analisis mengenai dampak lingkungan (amdal).

Ketiadaan izin amdal ini saja sudah merupakan pelanggaran hukum. Pelanggaran hukum berpotensi bertambah lantaran  pelaksana proyek ditengarai menabrak  izin mendirikan bangunan (IMB). Rupanya, dari IMB yang hanya untuk bangunan tiga lantai, gedung Hambalang sudah menjulang  sebanyak enam lantai.

Itu baru dari aspek hukum. Dari aspek teknis persoalannya lebih kompleks lagi. Berdiri di atas lahan perbukitan di Desa Hambalang, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat stabilitas tanah di sana harus diteliti ulang.

Tim teknis  Kementerian Pekerjaan Umum sudah menelisik ulang kondisi terakhir bangunan dan tanah.
Hasilnya diklaim memuaskan. Di antaranya, kecepatan pergerakan tanah yang hanya delapan milimeter per tahun dinilai masih baik.  Kedua, kondisi bangunan seluruhnya dalam kondisi tegak dan tidak bergeser. Temuan berikutnya, tidak ada retakan berarti pada struktur bangunan. Terakhir, diakui  terjadi degradasi pada struktur bangunan karena oksidasi.

Sehatnya kondisi terakhir Hambalang tidak boleh langsung dijadikan pembenaran bahwa proyek ini bisa dilanjutkan. Sebab kita tentu belum lupa, pada 2012 ada laporan mengenai dua bangunan yang ambruk di kompleks Hambalang. Runtuhnya bangunan diperkirakan terjadi karena pergerakan tanah.

Secara akal sehat saja, bangunan yang empat tahun terbengkalai kekuatannya pasti sudah menyusut. Tim teknis  diimbau mendahulukan keselamatan dalam menilai kekuatan bangunan.  Jika tim  menyimpan sedikit saja keraguan atas kelayakan proyek ini, lebih baik dihentikan sama sekali.

Pemerintah tidak boleh berkompromi dengan aspek keselamatan.  Setelah semua kajian hukum dan teknis dipastikan bebas masalah, barulah pembangunan Hambalang layak dilanjutkan. Jangan sampai hasrat mengamankan aset negara membuat kita terjebak dua kali dalam pusaran kasus Hambalang.

***